Scroll untuk baca artikel
JakartaNasionalSosialitaSuara Kita

“Baju Oranye Bukan Aib — Tapi Zirah Perjuangan” — Dokter Tifa Ungkap Makna di Balik Masa Sulitnya

×

“Baju Oranye Bukan Aib — Tapi Zirah Perjuangan” — Dokter Tifa Ungkap Makna di Balik Masa Sulitnya

Sebarkan artikel ini
“Baju Oranye Bukan Aib — Tapi Zirah Perjuangan” — Dokter Tifa Ungkap Makna di Balik Masa Sulitnya

JAKARTA | DETAKKita.com Sebuah unggahan emosional dari akun X milik Dokter Tifa kembali menjadi sorotan publik. Dalam cuitannya yang diunggah pada Selasa (23/6/2026), Dokter Tifa mengenang masa ketika dirinya harus mengenakan baju oranye, simbol yang kerap dikaitkan dengan proses hukum dan sering dijadikan bahan cibiran oleh para pengkritiknya.

Namun alih-alih merasa terpuruk, Dokter Tifa justru mengaku menjadikan pengalaman tersebut sebagai simbol keteguhan dalam memperjuangkan apa yang diyakininya sebagai kebenaran.

“Aku sudah pernah berbaju orange. Aku tidak pernah membayangkan akan sampai di titik ini,” tulisnya mengawali unggahan yang langsung memantik beragam reaksi dari warganet.

Dalam narasinya, Dokter Tifa menggambarkan bagaimana dirinya pernah berdiri di tengah kerumunan dengan sorotan banyak mata yang seakan merangkum seluruh perjalanan hidupnya hanya dalam satu warna: oranye.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukanlah awal maupun akhir dari perjalanan hidupnya.

“Memakai baju orange, berdiri di tengah kerumunan, dilihat banyak mata, seolah hidupku diringkas menjadi satu warna. Tapi kalau mereka mau tahu, ini bukan awal dari ceritaku. Ini hanya satu potongan kecil dari jalan panjang yang sudah kupilih, sadar atau tidak,” tulisnya.

Tak hanya itu, Dokter Tifa juga menyinggung berbagai serangan yang selama ini diarahkan kepadanya, termasuk ejekan dari buzzer maupun pihak-pihak yang menurutnya berupaya merendahkan dirinya.

Namun pengalaman mengenakan baju oranye tersebut justru ia maknai secara berbeda. Baginya, pakaian yang sering dijadikan simbol kehinaan itu berubah menjadi lambang keteguhan dan perlindungan atas prinsip yang diperjuangkannya.

“Baju orange ini, yang sering diteriakkan buzzer dan termul untuk menghinaku, ketika dia kusandang di tubuhku justru seperti baju zirah yang membungkus perjuanganku,” ungkapnya.

Dalam cuitan yang bernuansa reflektif itu, Dokter Tifa menyatakan bahwa baju oranye yang pernah dikenakannya merupakan simbol perlawanan terhadap kebohongan, kepalsuan, dan kezaliman.

Ia menegaskan bahwa dirinya tetap memilih berdiri tegak meski harus menghadapi tekanan, hujatan, hingga berbagai konsekuensi yang muncul akibat sikap dan pandangan yang selama ini ia suarakan.

“Baju orange ini, di tubuhku adalah tanda perlawanan terhadap kebohongan, kepalsuan, kezaliman. Tanda bahwa aku terus berdiri tegak dan tersenyum karena aku tahu nilai apa yang terkepal di tanganku,” tulisnya.

Lebih jauh, Dokter Tifa mengakui bahwa perjalanan yang ditempuhnya tidak selalu mudah. Ada keraguan, kelelahan, bahkan rasa takut yang kerap menyertainya. Namun ia mengaku tidak pernah benar-benar berhenti melangkah karena keyakinannya terhadap nilai-nilai yang diperjuangkan.

“Aku hanya berjalan dengan apa yang kupercaya. Kadang langkahku pelan, kadang aku ragu, tapi aku tidak pernah benar-benar berhenti.”

Menurutnya, suara yang ia sampaikan selama ini mungkin tidak selalu nyaman didengar oleh semua pihak. Bahkan, ia menyadari bahwa sikap kritis yang ditunjukkannya sering kali menimbulkan kegelisahan bagi sebagian orang.

“Aku tahu apa yang kusuarakan tidak selalu nyaman untuk didengar. Bahkan mungkin membuat sebagian orang terusik. Tapi bagaimana aku bisa diam, kalau hatiku sendiri tidak bisa diajak kompromi?” tulisnya lagi.

Pada bagian akhir unggahan, Dokter Tifa mengungkapkan bahwa saat banyak orang mungkin merasa iba atau menangisinya ketika melihat dirinya mengenakan baju oranye, justru yang muncul dalam dirinya adalah semangat yang semakin menyala.

Ia mengaku memilih menerima dan menjalani segala konsekuensi yang datang, bukan untuk mencari pembenaran di mata publik, melainkan agar suatu saat nanti dirinya tidak merasa mengkhianati kebenaran yang diyakininya.

“Kalau ini memang harus aku jalani, ya sudah… aku jalani. Bukan untuk membuktikan apa-apa ke dunia. Tapi supaya nanti, saat aku melihat ke belakang, aku tahu, aku tidak pernah mengkhianati kebenaran yang kuyakini.”

Cuitan tersebut pun langsung menuai beragam respons dari warganet. Sebagian memberikan dukungan atas keteguhan sikap yang ditunjukkan Dokter Tifa, sementara sebagian lainnya tetap melontarkan kritik terhadap pandangan dan pernyataan-pernyataan yang selama ini ia sampaikan di ruang publik.

Terlepas dari pro dan kontra yang mengiringinya, unggahan itu memperlihatkan satu pesan yang kuat: bagi Dokter Tifa, pengalaman paling sulit dalam hidup bukanlah alasan untuk menyerah, melainkan menjadi pengingat untuk tetap teguh memegang prinsip yang diyakini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *