TELUK KUANTAN | DETAKKita.com — Kemeriahan pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-44 Tingkat Provinsi Riau di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) telah berlalu. Ribuan pasang mata dibuat terpukau oleh penampilan tari kolosal yang megah dan penuh semangat. Namun, di balik kemewahan panggung pembukaan tersebut, tersimpan keluhan para penari, pemusik, pelatih, hingga penata tari yang mengaku belum menerima honor atas jerih payah mereka.
Kondisi ini menuai sorotan karena dinilai bertolak belakang dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah SAW bersabda:
“Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah).
Hadits tersebut mengandung makna agar setiap pemberi kerja segera menunaikan hak pekerja setelah pekerjaan selesai dan tidak menunda pembayaran tanpa alasan yang dibenarkan. Menunda hak pekerja dipandang sebagai bentuk kezaliman.
Keluhan tersebut disampaikan sejumlah penari dan pelatih tari massal pada Selasa (28/7/2026) di Teluk Kuantan. Mereka mengaku telah menjalani latihan selama kurang lebih empat bulan demi menyukseskan pembukaan MTQ Provinsi Riau, namun hingga kini honor yang dijanjikan belum juga diterima.
Berdasarkan data yang dihimpun, kebutuhan anggaran honor untuk penampilan tari massal itu mencapai sekitar Rp359.000.000, yang terdiri dari honor 240 penari dan 10 pemusik masing-masing sebesar Rp900.000, dengan total sekitar Rp225.000.000.
Selain itu, terdapat 12 pelatih yang masing-masing memperoleh honor Rp4.500.000, sehingga total mencapai Rp54.000.000. Sementara honor untuk penata tari dan penata musik masing-masing sebesar Rp40.000.000, sehingga total keduanya mencapai Rp80.000.000.
Jumlah tersebut belum termasuk biaya dari pihak ketiga yang turut menjadi pendukung dalam penyelenggaraan pembukaan tari massal MTQ Provinsi Riau di Kabupaten Kuantan Singingi.
Salah seorang pelatih yang enggan disebutkan namanya berharap Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi segera memberikan kepastian.
“Kami sudah berlatih selama empat bulan untuk menyukseskan pembukaan MTQ. Yang kami harapkan bukan sekadar janji, tetapi kejelasan kapan honor kami dibayarkan,” ujarnya.
Para penari dan pelatih berharap Pemerintah Daerah Kuansing segera memberikan penjelasan secara terbuka mengenai mekanisme dan jadwal pembayaran honor tersebut, sehingga tidak menimbulkan kekecewaan di kalangan para pelaku seni yang telah berkontribusi menyukseskan perhelatan akbar MTQ Provinsi Riau.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi maupun instansi terkait mengenai alasan belum dibayarkannya honor para penari, pemusik, pelatih, serta penata tari dan penata musik tersebut.






