Scroll untuk baca artikel
Kabupaten Batu BaraKesehatanProvinsi Sumatera Utara

Target 1.786 Kasus—Baru Terdeteksi 231! Alarm Bahaya TB Paru di Batu Bara—Dinkes Ungkap Fakta Mengejutkan Soal Anggaran dan Penanganan

×

Target 1.786 Kasus—Baru Terdeteksi 231! Alarm Bahaya TB Paru di Batu Bara—Dinkes Ungkap Fakta Mengejutkan Soal Anggaran dan Penanganan

Sebarkan artikel ini
Target 1.786 Kasus—Baru Terdeteksi 231! Alarm Bahaya TB Paru di Batu Bara—Dinkes Ungkap Fakta Mengejutkan Soal Anggaran dan Penanganan

BATU BARA | DETAKKita.com Upaya penanggulangan Tuberkulosis (TB) Paru di Kabupaten Batu Bara masih jauh dari target. Dari total 1.786 kasus yang ditargetkan pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2026, hingga akhir April baru 231 penderita yang berhasil terdata.

Fakta ini diungkap langsung oleh Plt. Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) PPKB Batu Bara, Dedi Siagian, di ruang kerjanya, Rabu (29/4/2026).

“Dari awal tahun hingga 27 April 2026, dari target Kemenkes sebanyak 1.786 penderita, baru 231 penderita TB Paru yang berhasil kita data,” tegas Dedi.

 

Deteksi Masih Rendah, Risiko Penularan Mengintai

Dedi menjelaskan, ratusan kasus tersebut ditemukan melalui proses screening terhadap pasien dengan gejala batuk yang datang berobat ke fasilitas kesehatan, seperti puskesmas dan RSUD H OK Arya Zulkarnain.

“Sebagian besar kita temukan dari pasien yang datang berobat. Ada juga yang secara sukarela datang karena mencurigai dirinya terinfeksi TB Paru,” ujarnya.

Tak hanya itu, pihak Dinkes juga melakukan langkah aktif dengan turun langsung ke lapangan, menyisir rumah pasien hingga lingkungan sekitar.

“Kami melakukan screening ke rumah pasien, termasuk anggota keluarga dan warga di sekitar tempat tinggalnya,” tambahnya.

Namun, rendahnya angka temuan dibanding target mengindikasikan masih banyak kasus TB Paru yang belum terdeteksi—sebuah kondisi yang berpotensi mempercepat penyebaran penyakit menular tersebut di masyarakat.

 

Target Tinggi, Kejar Eliminasi TB

Menurut Dedi, target besar dari pemerintah pusat bukan tanpa alasan. Hal ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk mempercepat eliminasi TB di Indonesia.

Sebagai gambaran, TB Paru merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru dan dapat menular melalui percikan dahak (droplet) saat penderita batuk atau bersin.

Target tinggi ini bertujuan:

  • Mempercepat deteksi dini kasus TB
  • Memutus rantai penularan di masyarakat
  • Meningkatkan angka kesembuhan pasien
  • Mendorong eliminasi TB secara nasional

2025 Tembus 959 Kasus, 2026 Masih Jauh dari Harapan

Sebagai perbandingan, pada tahun 2025 lalu, Dinkes Batu Bara mencatat 959 kasus TB Paru yang ditangani. Dari jumlah tersebut, sebagian pasien telah dinyatakan sembuh, sementara lainnya masih menjalani pengobatan.

“Sebagian sudah sembuh, namun masih ada yang melanjutkan pengobatan hingga saat ini,” ungkap Dedi, tanpa merinci angka pasti kesembuhan.

Kasus TB sendiri tersebar merata di seluruh kecamatan, dengan pasien menjalani pengobatan rutin di puskesmas maupun rumah sakit terdekat.

 

Pengobatan Gratis, Tapi Harus Disiplin!

Meski tergolong penyakit serius, Dedi menegaskan bahwa TB Paru bisa disembuhkan total asalkan pasien disiplin menjalani pengobatan.

“Yang terpenting, pasien harus rutin minum obat selama 6 bulan tanpa putus. Obat ini diberikan secara gratis,” tegasnya.

Ia juga menyarankan pasien untuk menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi vitamin dan mineral sebagai pendukung proses penyembuhan.

 

Lapas hingga Rumah Warga Jadi Sasaran Screening

Dinkes Batu Bara juga memperluas jangkauan pengawasan, termasuk ke Lapas Kelas IIA Labuhan Ruku. Pemeriksaan rutin dilakukan setiap bulan oleh Puskesmas setempat.

Langkah ini penting mengingat lingkungan tertutup seperti lapas memiliki risiko tinggi penyebaran penyakit menular.

 

Anggaran Minim, Susu Protein Dihapus!

Di tengah upaya penanganan, persoalan anggaran menjadi kendala serius. Program pemberian susu protein sebagai pendamping pengobatan yang sebelumnya dianggarkan sekitar Rp270 juta pada 2025, dinilai masih sangat terbatas.

“Dengan anggaran itu, susu hanya bisa diberikan selama dua minggu saja,” ungkap Dedi.

Lebih mengejutkan lagi, pada tahun 2026 program tersebut bahkan tidak lagi dianggarkan.

“Tahun ini tidak ada lagi anggaran untuk susu protein karena keterbatasan dana,” pungkasnya.

 

Waspada TB, Kenali Gejalanya!

Sebagai informasi, masyarakat diminta lebih waspada terhadap gejala TB Paru, di antaranya:

  • Batuk lebih dari 2 minggu
  • Batuk berdahak atau berdarah
  • Demam berkepanjangan
  • Penurunan berat badan drastis
  • Keringat malam berlebih

Jika mengalami gejala tersebut, masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

 

Alarm Kesehatan untuk Batu Bara

Dengan capaian yang masih jauh dari target, kondisi ini menjadi alarm serius bagi semua pihak—baik pemerintah, tenaga kesehatan, maupun masyarakat.

Tanpa deteksi masif dan kesadaran bersama, target eliminasi TB hanya akan menjadi angka di atas kertas. Kini, pertanyaannya: mampukah Batu Bara mengejar ketertinggalan sebelum waktu habis?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *