Scroll untuk baca artikel
Jakarta

Usai PPNK Lemhannas — Dokter Nadya Siap Bawa Nilai Kebangsaan ke Dunia Kesehatan

×

Usai PPNK Lemhannas — Dokter Nadya Siap Bawa Nilai Kebangsaan ke Dunia Kesehatan

Sebarkan artikel ini
Usai PPNK Lemhannas — Dokter Nadya Siap Bawa Nilai Kebangsaan ke Dunia Kesehatan

JAKARTA | DETAKKita.com Menjadi seorang dokter bukan sekadar berhadapan dengan diagnosis, resep, dan kesembuhan pasien. Bagi dr. Hj. Nadya Isra Miranti, M.K.M, pengabdian di dunia kesehatan juga harus berjalan seiring dengan kepedulian terhadap masa depan bangsa.

Di tengah kesibukannya menjalankan profesi sebagai dokter, perempuan asal Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, itu memilih melangkah lebih jauh dengan mengikuti Program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) Angkatan 73 Lemhannas RI.

Program tersebut menjadi ruang baginya untuk memperkuat wawasan kebangsaan, nasionalisme, karakter, serta semangat bela negara yang nantinya ingin ia implementasikan dalam lingkungan profesi dan kehidupan bermasyarakat.

Saat ditemui awak media, Minggu (30/8/2026), di sela kesibukannya di sebuah klinik di Jatinegara, Jakarta Timur, dr. Nadya mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam PPNK bukan sekadar untuk mendapatkan sertifikat, melainkan bagian dari ikhtiar memperkuat kapasitas dirinya sebagai warga negara sekaligus tenaga kesehatan.

“Kegiatan yang kami ikuti kemarin adalah Program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) Angkatan 73 Lemhannas RI. Pesertanya berasal dari kalangan birokrat, akademisi, tokoh masyarakat, organisasi profesi, TNI dan Polri dalam rangka penguatan karakter dan jati diri bangsa,” ungkap dr. Nadya.

PPNK Angkatan 73 tersebut berlangsung selama sepekan, mulai 10 hingga 18 Agustus 2026, dengan rangkaian kegiatan di Lemhannas RI dan penutupan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok.

Mengusung tema “Membangun Kemandirian Bangsa Melalui Asta Cita, Guna Mewujudkan Indonesia Emas 2045”, program itu mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang dalam satu ruang pembelajaran kebangsaan.

Bagi dr. Nadya, keberagaman latar belakang peserta justru menjadi salah satu kekuatan utama pendidikan tersebut.

Bukan Sekadar Belajar, Tapi Menguji Cara Pandang

Menurut dr. Nadya, pentingnya pendidikan nilai-nilai kebangsaan semakin terasa di tengah perubahan zaman. Ia menilai pemahaman mengenai nilai dasar kehidupan berbangsa harus terus diperkuat, terutama ketika generasi saat ini tidak lagi mendapatkan pola pendidikan kebangsaan seperti masa lalu.

“Kami mengikuti kegiatan ini karena nilai-nilai kebangsaan sangatlah penting sebagai warga negara di Republik ini. Di bangku sekolah kami tidak mendapatkan pelajaran P4 lagi, maka untuk mengimbangi pengetahuan terkait nilai-nilai kebangsaan, di Lemhannas lah tempat yang paling tepat,” ujarnya.

Ia mengaku mendapatkan pengalaman dan wawasan yang jauh lebih luas melalui diskusi langsung dengan para narasumber yang memiliki kompetensi di bidangnya.

“Alhamdulillah, kami berdiskusi langsung dengan narasumber yang kompeten, sehingga kami mendapatkan wawasan secara komprehensif,” lanjut lulusan S1 Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Batam dan S2 Magister Kesehatan Masyarakat Institut Kesehatan Helvetia Medan tersebut.

Tidak berhenti pada materi dan diskusi, dinamika kelompok juga menjadi bagian penting dari proses pembelajaran.

Peserta ditempatkan dalam sejumlah kelompok yang memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat, pertukaran gagasan, hingga pembahasan berbagai persoalan kebangsaan dari sudut pandang yang berbeda.

Justru dari sanalah, kata dr. Nadya, wawasan semakin diperkaya.

“Dalam pendidikan tersebut kami juga dibagi beberapa kelompok. Di sanalah dinamika-dinamika berbeda pandangan terjadi, sehingga dapat memperkaya kami akan sesuatu problem kebangsaan,” jelasnya.

Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika peserta mengikuti simulasi dan permainan yang mengharuskan setiap anggota bekerja sebagai satu tim.

“Hal yang paling berkesan bagi kami adalah pada saat adanya simulasi-simulasi melalui permainan games, karena di sanalah kekompakan kami diuji dalam suatu tim,” katanya.

Dari Lemhannas ke Ruang Praktik Dokter

Bagi dr. Nadya, tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah pendidikan berakhir.

Sebab, nilai-nilai kebangsaan yang dipelajari tidak boleh berhenti menjadi pengetahuan di dalam ruang kelas. Nilai tersebut harus diterjemahkan menjadi sikap dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Terlebih sebagai dokter, ia setiap hari berhadapan langsung dengan masyarakat yang membutuhkan pelayanan dan pertolongan kesehatan.

Karena itu, ia bertekad membawa nilai-nilai yang diperolehnya dari PPNK ke dalam dunia kesehatan.

“Ilmu yang kami dapat terkait nilai-nilai kebangsaan yang bersumber dari Empat Konsensus Dasar Bangsa sangatlah bermanfaat. Semoga kami dapat mengimplementasikannya di dunia kerja, khususnya dunia kerja yang saya geluti,” tutur dr. Nadya.

Menurutnya, profesi dokter menempatkan seseorang pada posisi yang sangat dekat dengan masyarakat. Setiap pasien datang dengan kondisi, kebutuhan, dan tingkat urgensi yang berbeda.

Di sinilah, nilai kemanusiaan, kepedulian, keadilan, tanggung jawab, serta kepekaan sosial menurutnya harus benar-benar diwujudkan dalam pelayanan.

“Apalagi tiap hari berurusan dengan masyarakat yang sakit, yang butuh pertolongan, sehingga dengan nilai-nilai ini saya lebih peka lagi terhadap kondisi yang mana harus saya prioritaskan untuk ditangani,” tegasnya.

Ia meyakini pembangunan bangsa tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Kemandirian bangsa juga dapat dibangun dari tindakan kecil yang konsisten di lingkungan masing-masing.

“Jadi, kalau kita telah menerapkan nilai-nilai kebangsaan dalam lingkungan sendiri, otomatis kemandirian bangsa menuju Indonesia Emas 2045 dapat terwujud,” harapnya optimistis.

Nusantara Adikara, Lahirkan Komitmen Baru

PPNK Angkatan 73 Lemhannas RI sendiri menggunakan nama angkatan “Nusantara Adikara”.

Peserta yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan dan dinyatakan memenuhi persyaratan mendapatkan sertifikat yang ditandatangani langsung oleh Gubernur Lemhannas RI Dr. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si.

Selain sertifikat, peserta juga memperoleh PIN Lemhannas RI, yang pemasangannya dilakukan secara simbolis pada momentum penutupan oleh Gubernur Lemhannas RI.

Bagi dr. Nadya, kelulusan tersebut bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh.

Ia menutup keterangannya dengan semboyan Lemhannas RI:

“Tanhanna Dharmma Mangrva.”

Semboyan tersebut memiliki makna “Tiada Kebenaran yang Mendua.”

Bagi seorang dokter, pesan itu kini menemukan ruang pengabdiannya sendiri: ketika ilmu kesehatan bertemu dengan nilai kebangsaan, pelayanan kepada masyarakat tidak hanya berbicara tentang menyembuhkan penyakit, tetapi juga tentang menghadirkan kepedulian, kemanusiaan, dan tanggung jawab sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *