Scroll untuk baca artikel
Kabupaten Kuantan SingingiProvinsi RiauTNI

Mabes TNI Turun ke Hulu Kuantan — Warga Diingatkan Jangan Bakar Lahan

×

Mabes TNI Turun ke Hulu Kuantan — Warga Diingatkan Jangan Bakar Lahan

Sebarkan artikel ini
Mabes TNI Turun ke Hulu Kuantan — Warga Diingatkan Jangan Bakar Lahan

HULU KUANTAN | DETAKKita.com Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tak boleh dianggap sepele. Di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI turun langsung ke Kecamatan Hulu Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, untuk mengajak masyarakat memperkuat kepedulian menjaga lingkungan.

Penyuluhan digelar di Aula Kecamatan Hulu Kuantan, Senin (31/8/2026), dipimpin Ketua Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI, Kolonel Kes Endro Utomo, bersama enam personel.

Kedatangan tim tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan perintah Panglima TNI sebagai tindak lanjut instruksi Presiden untuk memperkuat langkah pencegahan dan penanggulangan Karhutla.

Sekitar 100 peserta hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka terdiri dari Plh. Camat Hulu Kuantan Eka Handayani, S.E., Danramil 08/Kuantan Mudik Kapten Inf Aprison, Kapolsek Hulu Kuantan AKP Padunuan Aris Suranta, S.H., M.H., para kepala desa dan perangkat desa se-Kecamatan Hulu Kuantan, pelaku usaha perkebunan, tokoh masyarakat serta perwakilan warga.

TNI: Jangan Tunggu Api Membesar

Plh. Camat Hulu Kuantan Eka Handayani mengapresiasi kehadiran Tim Penyuluh Mabes TNI yang secara langsung memberikan edukasi kepada masyarakat.

“Kehadiran Tim Mabes TNI merupakan bentuk kepedulian TNI kepada masyarakat. Pemerintah Kecamatan Hulu Kuantan siap mendukung kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka pencegahan dan penanganan Karhutla,” ungkap Eka.

Ia menegaskan, pencegahan harus dimulai dari kesadaran masyarakat, terutama pemilik lahan dan pelaku usaha perkebunan.

Pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara membakar, kata dia, bukan hanya berpotensi memicu bencana dan kerusakan lingkungan, tetapi juga dapat membawa konsekuensi hukum.

Pesannya sederhana: jangan menunggu api membesar baru bertindak.

Ketua Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI Kolonel Kes Endro Utomo juga menekankan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar penyuluhan formal.

Menurutnya, masyarakat sebenarnya telah memahami bahaya Karhutla. Namun, pemahaman tersebut harus terus diperkuat dengan kewaspadaan dan tindakan nyata di lapangan.

“Penyuluhan ini bukan untuk menggurui, karena kita semua sudah memahami bahwa Karhutla harus dicegah. Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sekaligus upaya untuk mengingatkan kembali pentingnya menjaga lingkungan dan meningkatkan kewaspadaan,” ujarnya.

Bukan Hanya Aparat, Semua Punya Tanggung Jawab

Materi penyuluhan kemudian disampaikan Letkol Laut Sigit. Peserta diberikan pemahaman mengenai pencegahan, kesiapsiagaan hingga langkah-langkah penanggulangan apabila terjadi Karhutla.

Suasana penyuluhan tidak berlangsung satu arah. Diskusi dan tanya jawab berjalan interaktif. Peserta diberikan kesempatan menyampaikan pertanyaan sekaligus membahas persoalan yang berkaitan dengan ancaman kebakaran di wilayah masing-masing.

Danramil 08/Kuantan Mudik Kapten Inf Aprison bahkan memberikan penegasan keras bahwa tidak ada alasan bagi siapa pun untuk membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.

Baik perusahaan perkebunan, pemilik kebun maupun masyarakat, seluruhnya memiliki tanggung jawab untuk mencegah terjadinya kebakaran.

Tidak ada alasan membakar lahan demi membuka ataupun membersihkan kebun.

 

Sementara itu, Kapolsek Hulu Kuantan AKP Padunuan Aris Suranta menilai kegiatan tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah bersama TNI dan Polri dalam menghadapi ancaman Karhutla.

“Mari kita semua mendukung program ini. Kepada para pelaku usaha perkebunan agar menyediakan fasilitas pemadam serta tenaga yang memadai sebagai bagian dari upaya pencegahan dan penanggulangan apabila terjadi kebakaran,” tegasnya.

Perusahaan Diminta Tak Sekadar Berjanji

Dalam kegiatan tersebut, kesiapan sarana pemadaman juga diperlihatkan oleh pelaku usaha perkebunan.

Di antaranya PT Udaya Lohjinawi, perusahaan perkebunan kelapa sawit di wilayah Kecamatan Hulu Kuantan, serta PT TAL, perusahaan pengolahan sawit yang juga berada di wilayah tersebut.

Kesiapan sarana tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menghadapi potensi kebakaran. Sebab, ketika titik api muncul, kecepatan penanganan menjadi salah satu faktor penting agar api tidak meluas.

Pesan yang dibangun dalam penyuluhan itu pun jelas: pencegahan tidak cukup hanya dengan imbauan. Harus ada kesiapan personel, sarana dan tindakan nyata.

Kuis Karhutla, Warga Antusias

Menariknya, penyuluhan tidak dikemas secara kaku.

Kolonel Kes Endro Utomo menyelipkan kuis berisi pertanyaan seputar materi Karhutla. Warga dan peserta yang mampu menjawab dengan tepat mendapatkan hadiah.

Suasana pun berubah lebih hidup. Peserta terlihat antusias mengikuti pertanyaan yang diberikan.

Cara tersebut sekaligus menjadi sarana untuk menguji sejauh mana materi yang disampaikan benar-benar dipahami oleh masyarakat.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemberian santunan kepada masyarakat dan ditutup dengan foto bersama.

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib dan lancar.

Namun, pesan terpenting dari kegiatan tersebut jauh lebih besar daripada sekadar penyuluhan sehari.

Karhutla tidak mengenal batas wilayah. Api yang bermula dari satu titik dapat berubah menjadi persoalan besar ketika tidak segera dikendalikan.

Karena itu, keterlibatan masyarakat, pemerintah, TNI, Polri, pemerintah desa dan pelaku usaha menjadi mata rantai penting dalam pencegahan.

Mencegah Karhutla bukan semata-mata pekerjaan aparat.

Menjaga hutan bukan hanya tugas pemerintah.

Dan ketika api belum menyala, pencegahan adalah pilihan paling masuk akal untuk menyelamatkan lingkungan, masyarakat dan masa depan.

Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI berharap edukasi tersebut dapat memperkuat kesadaran seluruh elemen masyarakat Hulu Kuantan agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi Karhutla.

Satu api bisa menjadi bencana. Tetapi satu kepedulian bersama bisa mencegahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *