Scroll untuk baca artikel
Kabupaten Kuantan SingingiPemerintahanProvinsi RiauReligi

Maulid Nabi di Ar-Raudhah — ASN Kuansing Diingatkan: Teladani Akhlak Rasulullah

×

Maulid Nabi di Ar-Raudhah — ASN Kuansing Diingatkan: Teladani Akhlak Rasulullah

Sebarkan artikel ini
Maulid Nabi di Ar-Raudhah — ASN Kuansing Diingatkan: Teladani Akhlak Rasulullah

TELUK KUANTAN | DETAKKita.com Suasana Masjid Agung Ar-Raudhah, Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, Rabu (2/9/2026) pagi, dipenuhi nuansa religius. Jajaran Pemerintah Kabupaten Kuansing berkumpul memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriyah.

Namun, peringatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda keagamaan rutin. Di balik lantunan puji-pujian dan tausiah, terselip pesan kuat bagi para aparatur pemerintah: akhlak Rasulullah SAW harus tercermin dalam sikap, integritas, dan pelayanan kepada masyarakat.

Kegiatan dihadiri Pj Sekda Kuansing Drs. Muradi, M.Si yang mewakili Plt Bupati Kuansing H. Muklisin. Turut hadir Kepala Kantor Kementerian Agama Kuansing H. Suhelmon, M.A., C.QEM, seluruh kepala OPD, unsur Forkopimda, serta jajaran staf di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuansing.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kali ini diisi tausiah oleh Ustadz Encik Ivan Marfikuila, B.E.S., yang dikenal dengan sapaan “Ustadz Ungu”.

Di hadapan para pejabat dan ASN, ia mengajak seluruh jamaah tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Keteladanan Nabi Muhammad SAW, menurutnya, harus diterjemahkan dalam perilaku nyata.

Bukan Sekadar Seremonial

Pj Sekda Kuansing Drs. Muradi, M.Si menegaskan bahwa Maulid Nabi harus menjadi momentum untuk melakukan introspeksi sekaligus memperbaiki kualitas pengabdian aparatur kepada masyarakat.

“Kita berharap melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini, kita semua dapat mengambil keteladanan dari Rasulullah. Beliau mengajarkan kejujuran, amanah, kedisiplinan, kepedulian dan bagaimana memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Nilai-nilai itulah yang harus kita implementasikan dalam menjalankan tugas pemerintahan,” ujar Muradi.

Pesan tersebut menjadi penting karena ASN tidak hanya dituntut menyelesaikan pekerjaan administratif, tetapi juga membawa tanggung jawab moral dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Menurut Muradi, semakin kuat nilai keagamaan dan keteladanan Rasulullah diterapkan dalam kehidupan aparatur, maka semakin besar pula harapan terciptanya pemerintahan yang memiliki integritas dan pelayanan publik yang lebih baik.

Dengan kata lain, peringatan Maulid tidak boleh berhenti ketika acara selesai. Nilai yang disampaikan harus ikut dibawa kembali ke kantor, ruang pelayanan, hingga kehidupan sehari-hari.

“Kalau Mengaku Cinta Rasul, Sudahkah Akhlaknya Ada?”

Pesan lebih tajam disampaikan Ustadz Encik Ivan Marfikuila.

Dalam tausiahnya, Ustadz Ungu mengingatkan bahwa kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya melalui ucapan maupun perayaan Maulid.

Ia justru mengajak jamaah bercermin dan mempertanyakan kembali sejauh mana akhlak Rasulullah telah diterapkan dalam kehidupan.

“Kalau kita mengaku cinta kepada Rasulullah, maka pertanyaannya sederhana: sudahkah akhlak Rasulullah ada dalam diri kita? Cinta kepada Nabi bukan hanya dengan memperbanyak ucapan, tetapi bagaimana kita mencontoh kejujuran beliau, amanah beliau, kasih sayang beliau dan cara beliau memperlakukan sesama manusia,” tuturnya.

Menurutnya, keteladanan Rasulullah SAW harus hadir dalam tindakan nyata. Kejujuran harus menjadi karakter, amanah harus dijaga, kepedulian harus diwujudkan, sementara sikap buruk harus ditinggalkan.

Pesan itu juga relevan bagi jajaran pemerintahan. Sebab, amanah yang diemban seorang aparatur pada hakikatnya bukan hanya tanggung jawab kepada institusi, tetapi juga kepada masyarakat yang menerima pelayanan.

Dari Masjid ke Ruang Pelayanan

Ustadz Ungu kemudian mengajak seluruh jajaran pemerintah dan masyarakat Kuansing menjadikan Maulid Nabi sebagai titik awal perubahan.

“Jadikan Maulid ini bukan hanya peringatan, tetapi perubahan. Pulang dari masjid ini, mudah-mudahan ada akhlak yang kita bawa, ada kebaikan yang kita mulai dan ada kebiasaan buruk yang kita tinggalkan,” pesannya.

Pesan tersebut seakan menjadi penutup yang menegaskan makna Maulid Nabi tahun ini: bukan tentang seberapa meriah peringatannya, tetapi seberapa nyata perubahan yang lahir setelahnya.

Bagi jajaran Pemkab Kuansing, keteladanan Rasulullah SAW diharapkan tidak hanya menjadi materi tausiah yang didengar sesaat, tetapi menjadi nilai yang hidup dalam pelaksanaan pemerintahan.

Sebab pada akhirnya, akhlak seorang aparatur tidak hanya terlihat saat berada di masjid, tetapi justru diuji ketika kembali menjalankan amanah dan berhadapan langsung dengan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *