CERENTI | DETAKKita.com — Penantian panjang penuh harap dan cemas akhirnya berujung duka. Setelah enam hari pencarian tanpa henti, bocah laki-laki berusia 4,5 tahun yang hanyut di Sungai Kuantan, Desa Teluk Pauh, Kecamatan Cerenti, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, akhirnya ditemukan oleh tim gabungan, Rabu (8/4/2026) sekitar pukul 10.45 WIB.
Suasana haru tak terbendung saat jasad korban dievakuasi dari tepian sungai. Tangis keluarga pecah, sementara tim gabungan yang sejak awal berjibaku melawan arus deras dan cuaca ekstrem tampak menundukkan kepala.
Korban sebelumnya dilaporkan hanyut pada Jumat (3/4/2026) sekitar pukul 16.00 WIB. Saat itu, korban diketahui bermain pancing-pancingan bersama teman-temannya di pinggir Sungai Kuantan. Namun nahas, saat teman-temannya pulang, korban memilih tetap tinggal seorang diri di tepi sungai.
Kekhawatiran orang tua mulai memuncak ketika korban tak kunjung pulang. Pencarian dilakukan hingga akhirnya ditemukan sandal dan alat pancing milik korban di pinggir sungai—menjadi petunjuk awal tragedi memilukan tersebut.
Operasi pencarian pun langsung digelar sejak laporan masuk pukul 17.30 WIB di hari yang sama, melibatkan berbagai unsur mulai dari BPBD Kuansing, TNI, Polri, Basarnas Pekanbaru, Damkar, hingga masyarakat setempat.
Kalaksa BPBD Kuansing, H. Yulizar M, melalui Dansatgas PB, Boy Desrizal, mengungkapkan bahwa proses pencarian tidak berjalan mudah.
“Korban ditemukan sekitar 1 kilometer dari titik awal kejadian. Proses pencarian terkendala oleh naiknya debit air Sungai Kuantan serta kondisi cuaca yang kerap hujan di lokasi,” ujar Boy Desrizal.
Ia menegaskan, tim gabungan telah melakukan penyisiran intensif sepanjang aliran sungai sejak hari pertama hingga akhirnya korban berhasil ditemukan pada hari ke-6 operasi.
“Sejak awal kami mengerahkan seluruh sumber daya yang ada, baik personel maupun peralatan, termasuk perahu karet, mesin tempel, hingga peralatan penyelamatan lainnya,” tambahnya.
Di sisi lain, Bupati Kuantan Singingi (Kuansing), H. Suhardiman Amby, turut menyampaikan belasungkawa mendalam atas peristiwa tersebut. Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada, khususnya terhadap aktivitas anak-anak di sekitar sungai.
“Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Kepada seluruh masyarakat, terutama orang tua, agar lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak, apalagi di wilayah rawan seperti sungai. Keselamatan harus menjadi prioritas utama,” tegas Suhardiman.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa bahaya bisa datang kapan saja, terlebih di tengah kondisi alam yang tidak bersahabat. Sungai Kuantan yang tengah mengalami kenaikan debit air menjadi faktor risiko tinggi bagi siapa saja yang beraktivitas di sekitarnya.
BPBD Kuansing juga kembali mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana, serta segera melaporkan kejadian darurat melalui layanan yang tersedia.
Tragedi ini bukan sekadar musibah, tetapi juga alarm bagi semua pihak—bahwa kelengahan sekecil apapun bisa berujung kehilangan yang tak tergantikan.






