Scroll untuk baca artikel
Kabupaten Kuantan SingingiProvinsi RiauSosialita

TP PKK Kuansing Bergerak — Bantuan untuk Anak Stunting Disalurkan

×

TP PKK Kuansing Bergerak — Bantuan untuk Anak Stunting Disalurkan

Sebarkan artikel ini
TP PKK Kuansing Bergerak — Bantuan untuk Anak Stunting Disalurkan

TELUK KUANTAN | DETAKKita.com Percepatan penurunan stunting di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, terus didorong melalui kolaborasi lintas sektor. Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kuansing turun langsung memastikan anak-anak yang mengalami stunting mendapat perhatian dan dukungan pemenuhan gizi.

Langkah tersebut ditunjukkan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua TP PKK Kabupaten Kuansing, Hj. Nurhidayah Muniroh Muklisin bersama jajaran pengurus Pokja 4 TP PKK Kuansing saat menghadiri penyerahan bantuan bagi anak stunting di Aula Puskesmas Kuantan Tengah, Jumat (28/8/2026) pagi.

Kegiatan itu turut dihadiri Sekretaris Dinas Kesehatan Kuansing Maulina Reza, SE., M.Si., Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kuansing Asni, S.ST., Ketua TP PKK Kecamatan Kuantan Tengah Sri Widarti Eka Putra, A.Md., Kepala Puskesmas Teluk Kuantan dr. Desta Reviona, serta Ketua TP PKK Desa/Kelurahan se-Kecamatan Kuantan Tengah.

Stunting Masih Jadi Perhatian Serius

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Kuansing, Asni, S.ST., menegaskan persoalan stunting masih menjadi pekerjaan bersama yang membutuhkan perhatian serius.

Berdasarkan data hingga Juli 2026, prevalensi stunting di Kuansing masih tergolong tinggi dibandingkan daerah lainnya di Provinsi Riau.

“Stunting masih menjadi perhatian kita bersama. Berdasarkan data per Juli 2026, angka prevalensi stunting di Kuansing masih tergolong tinggi di Provinsi Riau,” ujar Asni.

Kondisi tersebut, menurutnya, tidak dapat ditangani hanya oleh pemerintah atau tenaga kesehatan. Dibutuhkan keterlibatan TP PKK, pemerintah desa, keluarga, masyarakat hingga berbagai lembaga yang memiliki kepedulian terhadap persoalan kesehatan dan gizi anak.

Kolaborasi menjadi kata kunci. Sebab, penanganan stunting tidak hanya berbicara mengenai kondisi anak, tetapi juga menyangkut pola asuh, pemenuhan gizi, kesehatan keluarga, lingkungan serta kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dan penanganan sejak dini.

TP PKK Apresiasi Dukungan BAZNAS

Di tengah upaya tersebut, TP PKK Kuansing memberikan apresiasi kepada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Kuansing yang turut mengambil peran dengan memberikan bantuan pangan bagi anak-anak yang mengalami stunting.

Plt. Ketua TP PKK Kabupaten Kuansing, Hj. Nurhidayah Muniroh Muklisin, menilai bantuan tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap keluarga yang membutuhkan dukungan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada BAZNAS Kuansing yang telah menyediakan bantuan pangan untuk anak-anak stunting. Semoga bantuan dari para pihak ini dapat memberikan manfaat bagi penerima,” ungkapnya.

Hj. Nurhidayah berharap sinergi yang terus dibangun berbagai pihak mampu mempercepat penurunan angka stunting di Kuansing.

Bahkan, ia mendorong agar upaya tersebut terus diperkuat hingga target zero stunting dapat diwujudkan.

Namun, target tersebut tidak akan tercapai tanpa keterlibatan masyarakat. Karena itu, ia meminta para orang tua maupun masyarakat tidak menutup diri ketika menemukan anak dengan kondisi yang membutuhkan perhatian dan penanganan.

“Saya berpesan kepada ibu-ibu yang anaknya mengalami stunting agar dapat menyampaikan kepada lingkungan sekitarnya. Jika ada anak-anak lain yang memiliki kondisi serupa, agar dapat segera disampaikan dan dilaporkan kepada Dinas Kesehatan atau Puskesmas setempat,” pesannya.

Jangan Ada Stigma, Anak Stunting Harus Didukung

Hj. Nurhidayah juga menekankan bahwa stunting bukan persoalan yang harus disembunyikan ataupun menjadi sumber rasa malu bagi keluarga.

Menurutnya, pendekatan terhadap keluarga harus dilakukan secara humanis. Orang tua membutuhkan motivasi dan pendampingan, bukan stigma.

“Stunting bukanlah sesuatu yang tabu, tetapi menjadi perhatian kita bersama, khususnya TP PKK yang terus bersinergi dan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan. Kita harus memberikan motivasi kepada orang tua dengan cara yang baik, humanis, dan menyenangkan,” tuturnya.

Pesan tersebut menjadi penting karena keberhasilan penanganan stunting sangat bergantung pada kemauan keluarga untuk terbuka dan mengikuti berbagai program pendampingan yang tersedia.

Anak dan orang tua yang menghadapi persoalan stunting, kata dia, justru harus mendapatkan dukungan agar kebutuhan gizi dan tumbuh kembang anak dapat dipantau secara berkelanjutan.

“Kita percaya, ananda-ananda ini suatu saat akan menjadi generasi emas. Karena itu, mari kita bersama-sama memberikan perhatian, dukungan, dan motivasi kepada mereka,” tambahnya.

Bantuan Berlanjut ke Desa Pantai Lubuk Ramo

Tidak berhenti di Puskesmas Kuantan Tengah, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Desa Pantai Lubuk Ramo, Kecamatan Kuantan Mudik.

Dalam kunjungan tersebut, Hj. Nurhidayah Muniroh bersama jajaran TP PKK Kuansing menyerahkan bantuan kepada Alfaruk, balita berusia 1 tahun 2 bulan.

Penyerahan bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan keluarga yang memiliki anak stunting tidak berjalan sendiri dalam menghadapi persoalan pemenuhan kebutuhan gizi.

Langkah itu sekaligus memperkuat sinergi antara TP PKK, Dinas Kesehatan, BAZNAS, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, tenaga kesehatan dan masyarakat.

Percepatan Stunting Butuh Gerakan Bersama

Persoalan stunting pada akhirnya bukan sekadar angka statistik. Di balik setiap data terdapat anak yang membutuhkan perhatian, keluarga yang membutuhkan pendampingan, serta masa depan generasi yang harus dijaga bersama.

Karena itu, TP PKK Kuansing mendorong agar kolaborasi penanganan stunting tidak berhenti pada kegiatan penyerahan bantuan, tetapi berlanjut melalui edukasi, pemantauan pertumbuhan, pemenuhan gizi dan pendampingan keluarga.

Pemerintah Kabupaten Kuansing bersama TP PKK berkomitmen terus memperkuat langkah tersebut agar setiap anak memperoleh hak atas perhatian, gizi dan pendampingan yang memadai.

Target akhirnya jelas: menekan angka stunting, memutus rantai persoalan gizi sejak dini, dan menyiapkan generasi Kuansing yang sehat, berkualitas serta mampu menjadi generasi emas di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *