Scroll untuk baca artikel
JakartaNasionalSportifitas

Indonesia Jadi Penonton — Sutan Nasomal Desak Presiden Bangun Roadmap Sepak Bola Nasional

×

Indonesia Jadi Penonton — Sutan Nasomal Desak Presiden Bangun Roadmap Sepak Bola Nasional

Sebarkan artikel ini
Indonesia Jadi Penonton — Sutan Nasomal Desak Presiden Bangun Roadmap Sepak Bola Nasional

JAKARTA | DETAKKita.com Ketika Singapura, Thailand, Malaysia dan Vietnam bersiap membawa gengsi negaranya ke lapangan hijau, Indonesia justru kembali berada di luar arena. Negeri dengan basis penggemar sepak bola yang begitu besar itu harus menyaksikan persaingan negara-negara tetangga dari pinggir lapangan.

Situasi tersebut menjadi sorotan Prof. Sutan Nasomal, S.H., M.H., komentator bidang hukum, ekonomi, budaya dan olahraga. Ia menilai kondisi tersebut seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan sepak bola nasional.

Menurut Sutan, Indonesia tidak boleh terus membangun sepak bola dengan pola jangka pendek. Diperlukan sebuah roadmap sepak bola nasional yang jelas, terukur dan berkelanjutan agar Indonesia mampu bersaing bukan hanya di Asia Tenggara, tetapi juga di level Asia dan dunia.

“Dunia persepakbolaan selama ini Indonesia hanya jadi penonton. Kita harapkan Presiden merangkul tokoh olahraga untuk ke depannya Indonesia bisa mengambil bagian dalam dunia persepakbolaan dunia,” ujar Sutan Nasomal saat menjawab pertanyaan sejumlah pimpinan redaksi media cetak dan online dalam dan luar negeri melalui sambungan telepon seluler dari Jakarta, Minggu (9/8/2026).

Empat Negara Bertarung, Indonesia di Luar Arena

Sorotan Sutan Nasomal muncul di tengah rangkaian pertandingan empat negara Asia Tenggara yang dijadwalkan berlangsung pada 15 hingga 19 Agustus 2026.

Persaingan akan dibuka dengan duel Singapura menghadapi Thailand pada 15 Agustus untuk leg pertama. Sehari berikutnya, Malaysia akan berhadapan dengan Vietnam pada 16 Agustus.

Pertarungan kemudian berlanjut pada leg kedua. Thailand dijadwalkan menghadapi Singapura pada 18 Agustus, sementara Vietnam bertemu Malaysia pada 19 Agustus.

Dua leg tersebut menjadi panggung bagi empat negara untuk mempertaruhkan strategi, kualitas tim dan kebanggaan nasional.

Namun di tengah panasnya persaingan tersebut, Indonesia kembali tidak berada di dalam pertarungan.

Bagi Sutan Nasomal, persoalan ini tidak semestinya hanya diarahkan kepada pemain, pelatih ataupun organisasi sepak bola. Ada pertanyaan yang jauh lebih besar yang harus dijawab secara bersama-sama.

Mengapa Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar, basis suporter yang masif dan gairah sepak bola yang luar biasa belum mampu membangun kekuatan sepak bola yang konsisten?

Jangan Terjebak Target Jangka Pendek

Sutan menegaskan, membangun sepak bola tidak cukup hanya dengan mengganti pelatih, merombak pemain atau memasang target juara dalam satu turnamen.

Menurutnya, fondasi sepak bola nasional harus dibangun dari bawah dan dilakukan secara konsisten.

Mulai dari pembinaan usia dini, kompetisi yang sehat dan berkualitas, peningkatan kualitas pelatih, pembangunan infrastruktur, tata kelola organisasi, profesionalisme manajemen hingga kesinambungan program tim nasional.

“Memang sangat disayangkan. Tahun 2026 ini Indonesia dalam persaingan sepak bola kawasan Asia Tenggara hanya menjadi penonton ketika empat negara, Singapura, Thailand, Malaysia dan Vietnam, bertarung membawa nama bangsanya,” kata Sutan.

Ia menilai kegagalan dalam olahraga merupakan sesuatu yang wajar. Yang menjadi persoalan adalah ketika kegagalan tersebut tidak pernah diikuti evaluasi mendalam dan pembenahan sistematis.

Sebab, prestasi tidak lahir dari kebetulan.

Prestasi lahir dari sistem pembinaan yang panjang, kompetisi yang kompetitif, pelatih berkualitas, manajemen profesional dan keberanian melakukan evaluasi secara konsisten.

Presiden Diminta Rangkul Tokoh Sepak Bola

Karena itu, Sutan Nasomal berharap Presiden Republik Indonesia dapat mengambil peran lebih besar dengan mempertemukan berbagai elemen sepak bola dan olahraga nasional.

Tokoh sepak bola, mantan pemain, pelatih, pengurus kompetisi, akademisi, pemerintah serta para pemangku kepentingan lainnya dinilai perlu duduk bersama menyusun cetak biru atau roadmap sepak bola Indonesia.

Roadmap tersebut, menurutnya, harus memiliki target yang realistis sekaligus indikator keberhasilan yang jelas.

Tidak sekadar mengejar kemenangan dalam satu pertandingan.

Tidak pula berhenti pada target juara satu turnamen.

Tetapi bagaimana Indonesia mampu menciptakan sistem yang secara konsisten melahirkan pemain berkualitas dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Jangan Hanya Jadi Penonton

Indonesia sebenarnya memiliki modal besar. Jumlah penduduk yang besar, animo masyarakat yang tinggi, basis suporter yang luas serta potensi pemain muda merupakan kekuatan yang semestinya dapat menjadi fondasi pembangunan sepak bola nasional.

Namun modal tersebut harus diubah menjadi sistem.

Jika negara-negara tetangga terus berlari dengan program pembinaan dan kompetisi mereka, Indonesia tidak boleh hanya berdiri di pinggir lapangan sambil menyaksikan.

Karena itu, kritik terhadap kondisi sepak bola Indonesia hari ini seharusnya tidak berhenti sebagai keluhan.

Justru harus menjadi alarm untuk melakukan perubahan.

Sutan Nasomal mendorong agar pemerintah bersama seluruh elemen sepak bola nasional berani menyusun langkah panjang yang tidak mudah berubah hanya karena pergantian kepemimpinan, pelatih atau pengurus organisasi.

Sebab, sepak bola nasional membutuhkan kesinambungan.

Pertanyaannya kini bukan lagi sekadar kapan Indonesia menang?

Tetapi jauh lebih mendasar:

Kapan Indonesia benar-benar membangun sistem sepak bola yang membuat prestasi menjadi sesuatu yang direncanakan, bukan sekadar diharapkan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *