Scroll untuk baca artikel
Adat dan BudayaKabupaten Kuantan SingingiPariwisataProvinsi RiauSosialitaSuara Kita

Retak dan Amblas! Tepian Lubuok Sobae Basogha Bikin Khawatir—Barry Eko Lesmana Minta Pemerintah Segera Bertindak

×

Retak dan Amblas! Tepian Lubuok Sobae Basogha Bikin Khawatir—Barry Eko Lesmana Minta Pemerintah Segera Bertindak

Sebarkan artikel ini
Retak dan Amblas! Tepian Lubuok Sobae Basogha Bikin Khawatir—Barry Eko Lesmana Minta Pemerintah Segera Bertindak

PEKANBARU | DETAKKita.com Kondisi arena Pacu Jalur Tepian Lubuok Sobae Basogha di Baserah, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, mulai menuai sorotan serius. Sejumlah titik di kawasan tepian sungai tersebut terlihat mengalami keretakan, amblas, hingga penurunan struktur tanah yang dinilai berpotensi membahayakan keselamatan pengunjung.

Sorotan itu disampaikan Anak Muda asal Baserah, Barry Eko Lesmana, Senin (18/5/2026) di Pekanbaru. Ia menilai kerusakan yang terjadi bukan lagi sekadar persoalan tampilan fasilitas umum, melainkan sudah masuk dalam kategori ancaman keselamatan masyarakat jika terus dibiarkan tanpa penanganan cepat.

“Yang kita khawatirkan bukan hanya soal kerusakan fisiknya, tetapi keselamatan masyarakat. Di beberapa titik sudah terlihat amblas dan retak cukup panjang. Jika terus dibiarkan, ini bisa membahayakan pengunjung yang datang,” ujar Barry Eko Lesmana.

Menurut Eko, demikian ia akrab disapa, Tepian Lubuok Sobae Basogha selama ini menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat di Baserah. Kawasan tersebut tidak hanya ramai saat pelaksanaan Pacu Jalur, tetapi juga menjadi ruang publik favorit masyarakat untuk bersantai menikmati suasana tepian sungai.

Namun di balik ramainya aktivitas warga, kondisi infrastruktur di kawasan itu kini mulai memprihatinkan. Retakan yang muncul di pelataran tepian sungai dikhawatirkan terus melebar akibat tekanan tanah dan abrasi aliran sungai.

Secara teknis, kawasan tepian sungai memang memiliki karakter tanah yang rentan mengalami erosi, abrasi, hingga pergeseran struktur tanah. Apalagi jika tidak diperkuat dengan sistem penahan tebing atau revitalisasi berkala. Kondisi tersebut dapat memicu longsor kecil hingga kerusakan yang lebih besar pada bagian pelataran.

Eko menegaskan, pemerintah tidak boleh menunggu sampai muncul korban jiwa atau kerusakan parah baru melakukan penanganan.

“Jangan sampai nanti baru sibuk mencari solusi ketika sudah ada korban atau kerusakan besar. Pencegahan jauh lebih penting. Pemerintah harus bergerak cepat melihat kondisi ini,” tegasnya.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kuansing segera mengambil langkah konkret dengan berkoordinasi bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) guna melakukan penanganan teknis terhadap kerusakan yang terjadi.

Menurutnya, revitalisasi kawasan Tepian Lubuok Sobae Basogha harus dilakukan secara menyeluruh agar tidak menjadi proyek tambal sulam yang hanya bersifat sementara.

Selain menyangkut keselamatan masyarakat, Eko menilai Tepian Lubuok Sobae Basogha memiliki nilai historis, sosial, dan budaya yang sangat penting bagi masyarakat Kuansing. Kawasan tersebut merupakan bagian dari ikon Pacu Jalur yang menjadi identitas budaya daerah dan dikenal hingga tingkat nasional.

“Pacu Jalur adalah identitas masyarakat Kuansing. Tepian Lubuok Sobae Basogha menjadi bagian dari denyut kebudayaan itu sendiri. Maka fasilitas dan keamanannya juga harus benar-benar diperhatikan,” tutup Eko.

Diketahui, Pacu Jalur merupakan tradisi budaya khas Kabupaten Kuantan Singingi yang setiap tahunnya mampu menarik ribuan pengunjung dari berbagai daerah. Karena itu, kondisi sarana pendukung seperti tribun, pelataran, hingga tepian arena pacu dinilai harus mendapatkan perhatian serius demi menjamin keamanan dan kenyamanan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *