TELUK KUANTAN | DETAKKita.com — Polemik banner promosi Pacu Jalur 2026 yang dipasang salah satu sponsor di kawasan Tepian Narosa Teluk Kuantan terus menjadi perhatian masyarakat Kuantan Singingi (Kuansing), Riau.
Banner yang mencantumkan tulisan “Pacu Jalur 2026 — Tradisi Mendunia, Kebanggaan Kita” tersebut disorot karena menampilkan ilustrasi perahu yang dinilai tidak merepresentasikan jalur tradisional Kuansing.
Sorotan itu kini datang dari Tokoh Masyarakat Riau asal Kuansing, Datuk Rajolelo Bangun Mardianto Manan, yang juga pernah menjabat sebagai Anggota DPRD Provinsi Riau.
Datuk Rajolelo Bangun menegaskan, dirinya tidak mempersoalkan niat baik Indomaret sebagai pihak yang turut mendukung dan memeriahkan pelaksanaan Pacu Jalur Kuansing 2026.
Namun, menurutnya, dukungan terhadap kegiatan budaya harus disertai pemahaman dan penghormatan terhadap budaya masyarakat setempat.
“Pertama, kita ucapkan terima kasih kepada Indomaret yang sudah berniat baik membuat banner Pacu Jalur tersebut,” ujar Datuk Rajolelo Bangun Mardianto Manan, Kamis (20/8/2026) kepada DETAKKita.com merespons pelaksanaan dan sponsor pacu jalur.
Di Mana Bumi Dipijak, di Situ Langit Dijunjung
Datuk Rajolelo Bangun kemudian mengingatkan pentingnya prinsip “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” bagi setiap pihak yang hadir dan beraktivitas di tengah masyarakat suatu daerah.
Menurutnya, perusahaan maupun pihak sponsor yang ingin menyatu dengan lingkungan harus terlebih dahulu memahami karakter, tradisi dan kebudayaan masyarakat setempat.
“Kedua, pertanda kita menyatu dengan lingkungan setempat, harusnya kita tahu diri. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Artinya, ikuti budaya setempat dan berbaur dengan lingkungan,” tegasnya.
Ia menyayangkan apabila sebuah materi promosi yang secara terang membawa nama Pacu Jalur Kuansing justru menggunakan visual yang menurut masyarakat bukan merupakan gambaran jalur tradisional Kuansing.
Bagi Datuk Rajolelo Bangun, persoalan tersebut menunjukkan pentingnya pembauran dan komunikasi dengan masyarakat lokal sebelum membuat materi promosi yang berkaitan langsung dengan identitas budaya daerah.
“Inilah pertanda pembauran tak dilakukan. Berbuat baik buat banner Pacu Jalur Kuantan Singingi, tapi dibuat perahu naga Tanjung Pinang. Kan terbukti Indomaret tak membaur karena tak tahu mana yang jalur dan mana yang sampan. Kan kacau tu,” katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan Datuk Rajolelo Bangun sebagai kritik terhadap penggunaan visual pada banner, sekaligus menjadi pengingat agar pihak sponsor lebih teliti memahami perbedaan antara jalur tradisional Kuansing dengan jenis perahu lainnya.
Pacu Jalur Bukan Sekadar Gambar Perahu
Menurut Datuk Rajolelo Bangun, Pacu Jalur tidak dapat dipandang hanya sebagai perlombaan menggunakan perahu panjang.
Di balik jalur terdapat sejarah, tradisi, kreativitas masyarakat, nilai kebersamaan serta identitas budaya yang telah melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Kuansing.
Karena itu, setiap pihak yang ikut mempromosikan Pacu Jalur seharusnya memahami bahwa penggunaan gambar, simbol maupun narasi yang berkaitan dengan tradisi tersebut memiliki arti penting bagi masyarakat.
“Kita tidak mempersoalkan niat baiknya. Justru kita apresiasi. Tetapi kalau ingin ikut mempromosikan budaya daerah, pelajari dulu budaya tersebut. Jangan sampai yang dipromosikan Pacu Jalur Kuansing, tetapi gambarnya justru perahu naga,” ujarnya.
Ia menilai kesalahan tersebut seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi pihak sponsor agar ke depan tidak kembali terjadi penggunaan visual yang keliru dalam mempromosikan budaya lokal.
Datuk Rajolelo Bangun Minta Indomaret Minta Maaf dan Ganti Banner
Datuk Rajolelo Bangun meminta pihak Indomaret tidak membiarkan persoalan tersebut berlarut-larut.
Ia menyarankan agar pihak sponsor segera memberikan penjelasan kepada masyarakat, menyampaikan permohonan maaf apabila penggunaan gambar tersebut memang merupakan kekeliruan, serta mengganti banner dengan visual jalur tradisional Kuansing yang benar.
“Ketiga, dengan kejadian ini pihak Indomaret minta maaf kepada masyarakat Kuansing karena ceroboh, dan ganti segera dengan banner jalur sebenarnya,” tegasnya.
Menurutnya, langkah sederhana tersebut justru dapat menjadi bentuk penghormatan terhadap masyarakat dan budaya Kuansing.
Ia juga berharap persoalan tersebut tidak berkembang menjadi konflik atau polemik berkepanjangan.
“Ini kesempatan bagi Indomaret untuk menunjukkan bahwa mereka menghargai masyarakat dan budaya Kuansing. Minta maaf, perbaiki bannernya, dan ke depan lebih memahami budaya setempat. Selesai,” katanya.
Sponsor Boleh Hadir, Budaya Jangan Salah Digambarkan
Sorotan Datuk Rajolelo Bangun Mardianto Manan pada akhirnya bukan semata-mata mengenai sebuah banner.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa keterlibatan pihak swasta dalam kegiatan kebudayaan daerah hendaknya tidak berhenti pada dukungan sponsorship dan promosi. Ada tanggung jawab untuk menghormati identitas budaya masyarakat tempat kegiatan berlangsung.
Bagi masyarakat Kuansing, Pacu Jalur merupakan warisan budaya sekaligus simbol kebanggaan daerah. Nama Pacu Jalur yang kini semakin dikenal luas tidak terlepas dari perjuangan masyarakat dalam mempertahankan tradisi tersebut dari generasi ke generasi.
Karena itu, ketika sebuah perusahaan memasang materi promosi dengan membawa nama “Pacu Jalur 2026” dan slogan “Tradisi Mendunia, Kebanggaan Kita”, masyarakat tentu berharap visual yang digunakan benar-benar mencerminkan jalur tradisional Kuansing.
Kini, publik menunggu respons pihak Indomaret terhadap kritik tersebut, termasuk langkah apakah banner yang menjadi sorotan akan diperbaiki atau diganti.
Pesan Datuk Rajolelo Bangun tegas: niat baik patut diapresiasi, tetapi ketika membawa nama budaya daerah, jangan sampai salah menggambarkan identitasnya.
Sebab di Negeri Pacu Jalur, jalur bukan sekadar perahu—ia adalah marwah budaya dan kebanggaan masyarakat Kuantan Singingi.






