TELUK KUANTAN | DETAKKita.com — Tragedi memilukan kembali mengguncang Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun yang baru menginjak bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) ditemukan meninggal dunia setelah tenggelam di lubang bekas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang dibiarkan menganga tanpa reklamasi di Kelurahan Sungai Jering, Kecamatan Kuantan Tengah, Senin (13/7/2026) malam.
Peristiwa ini kembali menjadi tamparan keras atas bahaya nyata yang ditinggalkan aktivitas tambang emas ilegal. Lubang-lubang bekas galian yang tidak ditimbun kini berubah menjadi perangkap maut yang setiap saat mengancam keselamatan warga, terutama anak-anak dan remaja.
Menurut keterangan saksi mata, Nasrul, korban bersama beberapa rekannya memang kerap mendatangi lokasi tersebut untuk mencari sisa-sisa butiran emas secara manual menggunakan peralatan sederhana berupa cangkul dan karpet penyaring.
Nasrul mengaku sudah berkali-kali melarang mereka agar tidak bermain maupun mencari emas di kawasan berbahaya itu. Namun, nasihat tersebut tak pernah dihiraukan.
“Sudah sering sekali saya larang anak-anak itu mencari emas secara manual di sana, Bang. Tapi mereka tetap datang,” ujar Nasrul dengan nada penuh penyesalan.
Ia bahkan masih mengingat jawaban polos yang sering dilontarkan para remaja tersebut ketika diperingatkan.
“Mereka malah menjawab, ‘Ini kan bukan tanah Bapak.’ Saya tidak menyangka akhirnya musibah seperti ini benar-benar terjadi,” ungkapnya.
Kematian pelajar tersebut memicu duka mendalam sekaligus kemarahan warga. Mereka menilai para pelaku PETI hanya mengejar keuntungan pribadi tanpa memikirkan dampak yang ditinggalkan bagi masyarakat.
Warga mengecam keras praktik tambang ilegal yang meninggalkan lubang-lubang menganga tanpa reklamasi, hingga akhirnya merenggut nyawa generasi muda.
“Pelaku PETI hanya tahu mengeruk untung, lalu pergi begitu saja meninggalkan lubang menganga yang kini memakan korban jiwa. Jangan sampai tragedi seperti ini terus berulang,” tegas salah seorang warga di lokasi.
Menjelang malam, lokasi kejadian dipadati ratusan warga yang ingin menyaksikan proses evakuasi sekaligus memberikan penghormatan terakhir kepada korban.
Sejumlah unsur pemerintah dan aparat keamanan langsung turun ke Tempat Kejadian Perkara (TKP), di antaranya Kapolsek Kuantan Tengah AKP Linter Sihaloho beserta personel, Camat Kuantan Tengah Eka Putra, Denintel Kodam XIX Tuanku Tambusai, serta Tim Inafis Polres Kuansing yang melakukan olah TKP dan penyelidikan.
Hingga berita ini diterbitkan DETAKKita.com, aparat kepolisian masih menyelidiki penyebab pasti tenggelamnya korban serta mengumpulkan sejumlah keterangan saksi.
Tragedi ini menjadi alarm keras bahwa persoalan PETI di Kuansing bukan hanya soal kerusakan lingkungan dan pelanggaran hukum, tetapi juga telah berubah menjadi ancaman nyata terhadap keselamatan masyarakat. Warga berharap aparat penegak hukum tidak hanya mengusut penyebab kematian korban, tetapi juga menindak tegas para pelaku PETI yang meninggalkan lubang-lubang maut tanpa tanggung jawab.






