Scroll untuk baca artikel
Kabupaten Kuantan SingingiProvinsi RiauSosialitaSuara Kita

Truk Sawit Diduga Milik PT APN Menggila di Benai—Warga: “Jalan Kami Jadi Neraka Debu dan Ancaman Maut!”

×

Truk Sawit Diduga Milik PT APN Menggila di Benai—Warga: “Jalan Kami Jadi Neraka Debu dan Ancaman Maut!”

Sebarkan artikel ini
Truk Sawit Diduga Milik PT APN Menggila di Benai—Warga: “Jalan Kami Jadi Neraka Debu dan Ancaman Maut!”

TALONTAM | DETAKKita.com Kesabaran warga Kecamatan Benai, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, tampaknya mulai di ujung batas. Truk-truk pengangkut tandan buah segar (TBS) sawit diduga milik PT Agrinas Palma Nusantara (APN) disebut semakin brutal melintas di jalur pemukiman warga dengan muatan berlebihan atau Over Dimension Over Load (ODOL).

Bukan hanya diduga melanggar kapasitas angkut. Kendaraan raksasa itu juga disebut melintas secara beriringan alias konvoi di jam-jam sibuk aktivitas masyarakat. Kondisi ini memicu keresahan besar warga karena dinilai menjadi ancaman nyata bagi keselamatan pengguna jalan.

Keluhan keras itu disampaikan Beni, warga Desa Talontam Benai, kepada DETAKKita.com saat berbincang di Desa Gunung Kesiangan, Senin (25/5/2026) malam.

Menurutnya, jalan utama Simpang Mangga menuju wilayah Benai seberang kini berubah menjadi jalur “menakutkan” bagi masyarakat akibat lalu lalang truk sawit bermuatan besar tersebut.

“Setiap hari warga dihantui rasa takut. Truk-truk itu masuk beriringan, muatannya besar-besar. Jalan jadi sempit, berdebu, bising, dan sangat membahayakan masyarakat. Ini bukan lagi sekadar mengganggu, tapi sudah mengancam keselamatan warga,” tegas Beni dengan nada geram.

Ia menilai kondisi ini sangat ironis. Di tengah pemerintah daerah yang sedang gencar mencari sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), kendaraan-kendaraan angkutan sawit tersebut justru disebut tidak memberikan kontribusi nyata terhadap daerah.

Beni bahkan menyoroti nomor polisi kendaraan yang mayoritas disebut bukan berasal dari wilayah Provinsi Riau.

“Rata-rata plat nomor mereka seri B, ada juga H dan lainnya. Jalan Kuansing yang rusak, masyarakat Kuansing yang menanggung debu dan bahayanya, tapi daerah tidak diuntungkan. Ini jelas sangat merugikan masyarakat,” katanya.

Menurut warga, keberadaan truk ODOL bukan hanya berdampak terhadap kerusakan infrastruktur jalan, tetapi juga memicu pencemaran udara akibat debu yang beterbangan setiap kali kendaraan melintas secara konvoi.

Kondisi tersebut diperparah karena jalur yang dilintasi merupakan kawasan padat penduduk dan akses utama masyarakat menuju sejumlah wilayah di Kuansing bagian seberang.

“Kalau mereka lewat berombongan, debunya luar biasa. Anak-anak, orang tua, pengguna motor semua kena. Batuk, sesak napas, gangguan pernafasan bisa muncul. Belum lagi suara bisingnya yang bikin warga tidak nyaman,” ungkapnya.

Warga menilai persoalan ini tidak boleh terus dianggap sepele. Sebab, kendaraan ODOL selama ini dikenal menjadi salah satu penyebab utama kerusakan jalan dan tingginya risiko kecelakaan lalu lintas.

Secara umum, kendaraan ODOL merupakan angkutan yang melebihi dimensi dan kapasitas muatan yang telah ditetapkan. Dampaknya bukan hanya mempercepat kehancuran jalan, tetapi juga meningkatkan risiko rem blong, kendaraan oleng, hingga kecelakaan fatal di jalan raya.

Selain itu, konvoi kendaraan berat di kawasan pemukiman juga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, menurunkan kualitas udara akibat debu, serta memperbesar ancaman terhadap pengguna kendaraan roda dua.

Karena itu, warga mendesak Pemerintah Kabupaten Kuansing dan Pemerintah Provinsi Riau agar tidak tutup mata terhadap kondisi tersebut.

“Pemda jangan diam. Harus ada teguran keras dan sanksi tegas. Jangan sampai nyawa warga jadi taruhan hanya karena pembiaran. Kalau dibiarkan terus, masyarakat yang jadi korban,” kecam Beni.

Warga berharap instansi terkait segera turun tangan melakukan pengawasan terhadap aktivitas kendaraan angkutan sawit yang diduga milik PT Agrinas Palma Nusantara (APN), termasuk memeriksa legalitas angkutan, kapasitas muatan, hingga dampaknya terhadap keselamatan dan lingkungan masyarakat sekitar.

Kini, masyarakat Benai hanya ingin satu hal: jalan mereka kembali aman. Bukan menjadi lintasan truk-truk raksasa yang setiap hari menebar debu, kebisingan, dan ketakutan di tengah pemukiman warga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *