Scroll untuk baca artikel
JakartaNasional

Suyudi Resmi Jadi Kapolri — Bawa Pesan Tegas: Polri Harus Dipercaya — Bukan Ditakuti

×

Suyudi Resmi Jadi Kapolri — Bawa Pesan Tegas: Polri Harus Dipercaya — Bukan Ditakuti

Sebarkan artikel ini
Suyudi Resmi Jadi Kapolri — Bawa Pesan Tegas: Polri Harus Dipercaya — Bukan Ditakuti

JAKARTA | DETAKKita.com — Tongkat komando Kepolisian Negara Republik Indonesia resmi berganti. Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto kini menjabat sebagai Kapolri setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Pelantikan tersebut sekaligus menandai berakhirnya masa jabatan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri. Suyudi sebelumnya menjabat Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) sejak 25 Agustus 2025. Setelah dilantik, pangkatnya dinaikkan menjadi Jenderal Polisi.

Sebelum sampai ke kursi Kapolri, Suyudi memiliki rekam pengalaman panjang di lingkungan kepolisian, terutama bidang reserse. Ia pernah menjabat Wakapolda Metro Jaya, Kapolda Banten, hingga kemudian dipercaya memimpin BNN.

Namun, di balik pergantian pucuk pimpinan tersebut, Suyudi membawa pesan yang lebih besar: mengubah ukuran keberhasilan Polri dari sekadar program dan publikasi menjadi sesuatu yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Visi yang diusungnya adalah “Polisi Bersama Masyarakat”.

Usai dilantik, Suyudi menegaskan tiga fokus awal kepemimpinannya, yakni peningkatan pelayanan publik, penegakan hukum yang adil, serta memperkuat kedekatan polisi dengan masyarakat.

“Tentunya kita akan mengedepankan upaya-upaya peningkatan pelayanan publik. Kemudian juga penegakan hukum yang adil dan juga kami berupaya untuk bisa lebih dekat kepada masyarakat sesuai dengan apa yang menjadi program kerja kami yaitu polisi bersama masyarakat,” ujar Suyudi.

Menurut Suyudi, polisi sejatinya tidak boleh berjarak dengan masyarakat. Kehadiran aparat harus mampu memberikan jawaban cepat terhadap persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Memang sejatinya polisi harus selalu dekat dengan masyarakat, harus berada di tengah-tengah masyarakat dan juga memberikan jawaban kepada masyarakat secara cepat dalam kerangka kamtibmas,” tegasnya.

Bukan Sekadar Slogan

Dalam gagasan kepemimpinannya, Suyudi menekankan bahwa keberhasilan Polri tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya slogan, aplikasi, operasi, rapat maupun publikasi.

Ukuran yang lebih nyata, kata dia, adalah ketika masyarakat merasakan keamanan, pelayanan kepolisian semakin mudah diakses, pertolongan datang lebih cepat, perkara memperoleh kepastian, korban mendapat perlindungan, dan hukum diterapkan secara adil.

“Bagi saya, jabatan Kapolri bukanlah puncak karier, jabatan Kapolri adalah puncak tanggung jawab.”

Pernyataan itu menjadi salah satu pesan utama Suyudi dalam menggambarkan bagaimana ia memandang jabatan tertinggi di tubuh Polri.

Ia juga menegaskan pentingnya pengawasan serta ruang koreksi dari masyarakat.

“Polri menghormati proses hukum, bekerja bersama lembaga pengawas, dan membuka ruang koreksi masyarakat.”

Suyudi menginginkan institusi kepolisian tidak hanya kuat secara organisasi, tetapi juga mampu membangun kepercayaan publik melalui pelayanan dan penegakan hukum.

Anak Harus Merasa Aman Saat Melihat Polisi

Pesan Suyudi kemudian menyentuh sisi paling sederhana dari hubungan polisi dengan masyarakat.

Ia menggambarkan keberhasilan kepolisian dari sudut pandang seorang anak, korban yang mencari pertolongan, hingga masyarakat yang menyampaikan kritik.

“Cita-cita saya sederhana. Ketika seorang anak melihat polisi, dia merasa aman, bukan takut. Ketika korban datang ke kantor polisi, dia menemukan pertolongan, bukan kerumitan.”

Bagi Suyudi, kritik masyarakat juga tidak boleh dipandang sebagai ancaman terhadap kewibawaan institusi.

“Ketika masyarakat menyampaikan kritik, polisi mampu mendengar tanpa kehilangan kewibawaan. Ketika kejahatan mengancam, polisi hadir paling depan dengan keberanian dan profesionalisme.”

Belanja Masalah dan Benahi yang Perlu Diperbaiki

Langkah awal Suyudi akan dimulai dengan konsolidasi internal dan evaluasi terhadap program yang sudah berjalan.

Program yang dinilai baik akan dilanjutkan, sedangkan bagian yang masih membutuhkan pembenahan akan dievaluasi.

“Kami akan melihat hal-hal yang mungkin masih bisa ditindaklanjuti dan masih cukup baik kita akan lanjutkan dan yang masih perlu diperbaiki kita akan perbaiki,” kata Suyudi.

Ia juga menyebut akan melakukan pemetaan terhadap berbagai persoalan di tubuh Polri untuk menentukan prioritas penanganan.

“Kita akan mencoba belanja masalah dan juga akan melakukan langkah-langkah yang kami anggap penting, menjadi prioritas kami tentunya dalam kerangka hankamtibmas,” ujarnya.

Sejumlah persoalan yang menjadi perhatian antara lain pemberantasan narkotika, penyelundupan, judi daring serta berbagai bentuk gangguan keamanan yang menjadi keresahan masyarakat.

“Polri Kuat Karena Dipercaya”

Di penghujung pesannya, Suyudi menegaskan kembali filosofi kepemimpinannya.

Menurut dia, kekuatan Polri tidak semata-mata bersumber dari kewenangan yang dimiliki, tetapi dari tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi tersebut.

“Polri yang kuat bukan karena ditakuti, melainkan karena dipercaya. Polri yang berwibawa bukan karena menjaga jarak, melainkan karena hadir bersama rakyat, melindungi negara, dan dibutuhkan.”

Ia menutup gagasan tersebut dengan satu kalimat yang menempatkan jabatan Kapolri sebagai amanah, bukan sekadar jenjang karier.

“Karena bagi saya, menjadi polisi adalah kehormatan, memimpin Polri adalah amanah.”

Dengan pelantikan ini, Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto resmi memegang kendali tertinggi institusi Polri. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan visi “Polisi Bersama Masyarakat” ke dalam pelayanan, penegakan hukum, pengawasan dan tindakan nyata yang dapat dirasakan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *