Scroll untuk baca artikel
Kabupaten Kuantan SingingiKebudayaan dan AdatPemerintahanProvinsi Riau

Toduang Bakotat Dibanjiri Ribuan Warga — Rp62 Juta Kurang! Plt Bupati Muklisin Rogoh Kocek Pribadi Rp10 Juta

×

Toduang Bakotat Dibanjiri Ribuan Warga — Rp62 Juta Kurang! Plt Bupati Muklisin Rogoh Kocek Pribadi Rp10 Juta

Sebarkan artikel ini
Toduang Bakotat Dibanjiri Ribuan Warga — Rp62 Juta Kurang! Plt Bupati Muklisin Rogoh Kocek Pribadi Rp10 Juta

PANGEAN | DETAKKita.com Ribuan warga memadati Desa Pauh Angit, Kecamatan Pangean, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Rabu (23/9/2026) malam.

Bukan sekadar menyaksikan sebuah jalur baru dilayurkan, masyarakat datang membawa semangat yang sama: menjaga denyut tradisi Pacu Jalur agar tetap hidup di tengah masyarakat Rantau Kuantan.

Malam itu, Jalur Toduang Bakotat resmi dilayurkan dalam suasana meriah, penuh antusiasme dan kebersamaan.

Namun di balik kemeriahan tersebut, terselip persoalan yang sempat membayangi penyelesaian jalur. Hingga pelayuran digelar, panitia masih menghadapi kekurangan dana sebesar Rp62 juta.

Kondisi tersebut mendapat perhatian langsung dari Plt Bupati Kuantan Singingi H. Muklisin yang hadir bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Kuansing.

Tak hanya memberikan dukungan pemerintah, H. Muklisin bahkan turun tangan secara pribadi.

Plt Bupati Rogoh Kocek Pribadi Rp10 Juta

Dalam kegiatan tersebut, H. Muklisin memberikan bantuan pribadi sebesar Rp10 juta untuk membantu menutupi kebutuhan penyelesaian Jalur Toduang Bakotat.

Dukungan juga datang dari Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi sebesar Rp25 juta.

Bersama bantuan dari berbagai pihak lainnya, total dukungan yang terkumpul mencapai Rp76,5 juta.

Bantuan tersebut diharapkan mampu menjawab kebutuhan pendanaan sekaligus memastikan proses penyelesaian jalur baru Toduang Bakotat dapat berjalan sebagaimana mestinya.

H. Muklisin menegaskan, pembangunan jalur bukan semata-mata persoalan membuat sebuah perahu panjang untuk diperlombakan.

Lebih dari itu, jalur merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat Kuansing yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Dengan dibuatnya jalur baru ini, kita berharap tradisi Pacu Jalur terus lestari dan dapat diwariskan kepada generasi penerus. Ini merupakan bagian dari kekayaan budaya yang harus kita jaga bersama,” ujar H. Muklisin.

Ribuan Warga Jadi Saksi, Toduang Bakotat Resmi Dilayurkan

Pelayuran Jalur Toduang Bakotat berlangsung semarak.

Ribuan masyarakat, tokoh masyarakat, unsur pemerintahan, serta berbagai elemen lainnya tumpah ruah menyaksikan momentum tersebut.

Kehadiran masyarakat dalam jumlah besar memperlihatkan bahwa Pacu Jalur bukan sekadar agenda perlombaan tahunan.

Di balik dentuman tepukan, sorak masyarakat dan prosesi pelayuran, terdapat semangat gotong royong yang menjadi salah satu kekuatan utama tradisi Pacu Jalur.

Kepala Desa Pauh Angit Sustiaji yang mewakili Camat Pangean Aswandi, S.Pd., MM., menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan dukungan Plt Bupati Kuansing beserta jajaran.

Ia mengungkapkan bahwa proses pembuatan jalur Toduang Bakotat sebelumnya masih menghadapi kendala pendanaan.

Hingga menjelang pelayuran, masih terdapat kekurangan sekitar Rp62 juta untuk menuntaskan kebutuhan pembuatan jalur tersebut.

Dukungan berbagai pihak akhirnya membuat kebutuhan tersebut dapat ditutupi, bahkan jumlah bantuan yang terkumpul mencapai Rp76,5 juta.

Dari Pauh Angit untuk Kuansing

Bagi masyarakat Pauh Angit, lahirnya Jalur Toduang Bakotat menjadi kebanggaan tersendiri.

Jalur tersebut tidak hanya menjadi simbol keberadaan sebuah desa dalam tradisi Pacu Jalur, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat persatuan masyarakat.

H. Muklisin berharap Toduang Bakotat kelak mampu membawa nama Pauh Angit dan Kecamatan Pangean dalam setiap perhelatan Pacu Jalur.

Namun yang lebih penting, menurutnya, semangat menjaga jalur harus berjalan beriringan dengan semangat menjaga kebersamaan masyarakat.

“Jalur Toduang Bakotat ini menjadi kebanggaan masyarakat Pangean dan Kuantan Singingi pada umumnya. Mari kita sama-sama menjaga budaya ini, sekaligus menjaga persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat,” pesannya.

Ia juga mengajak masyarakat, tokoh adat, pemuda, pemerintah serta seluruh elemen terkait untuk terus mempertahankan semangat gotong royong dalam melestarikan Pacu Jalur.

Sebab, Pacu Jalur bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara di gelanggang.

Di dalamnya terdapat kerja bersama, pengorbanan, kekompakan, nilai adat dan semangat persaudaraan yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Kuansing.

Dukungan Pemerintah dan Masyarakat Jadi Modal

Kehadiran Plt Bupati H. Muklisin didampingi Pj Sekda Kuansing Drs. Muradi, M.Si., Asisten III Drs. Azhar, MM., Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Ir. Emmerson, Kepala Dinas Kesehatan Aswandi, SKM., M.Kes., Plt Kepala Dinas Perkim M. Gemuruh, Plt Kepala Diskominfo Hevi Heri Antoni, S.Sos., M.Si., Kepala Bappedalitbang Hendra Roza, S.Si., Direktur RSUD dr. Benny Antomy, Sekretaris Bappedalitbang Sujarwadi, Ketua KONI Kuansing Andi Cahyadi, Plt Kepala Dinas Sosial PMD Delis Martoni, SE., MM., Kabag Kesra Ismayudi Hendri, serta anggota DPRD Kuansing Desta Harianto, S.Sos., Ike Krisnawati dan Samsiri Indra, semakin menambah semarak momentum tersebut.

Turut hadir Camat Pangean, Pangulu Mem Barompek Nagori Pangean, unsur Forkopimcam dan sejumlah tokoh masyarakat.

Malam pelayuran pun menjadi saksi bahwa ketika sebuah tradisi dijaga bersama, persoalan yang menghadang dapat dihadapi melalui semangat gotong royong.

Toduang Bakotat akhirnya dilayurkan.

Bukan hanya membawa sebilah kayu yang telah berubah menjadi jalur, tetapi juga membawa harapan masyarakat Pauh Angit untuk terus menjaga denyut Pacu Jalur di Rantau Kuantan.

Dari Pauh Angit, semangat itu kembali ditegaskan: Pacu Jalur bukan sekadar perlombaan, tetapi warisan budaya yang hidup karena dijaga bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *