TELUK KUANTAN | DETAKKita.com — Di tengah tuntutan dunia usaha untuk tidak sekadar mengejar pertumbuhan, keberlanjutan kini menjadi bagian penting dari cara perusahaan membangun kepercayaan publik.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) terus memperkuat komunikasi mengenai agenda Environmental, Social, and Governance (ESG) agar berbagai program keberlanjutan yang dijalankan perusahaan tidak berhenti sebagai informasi korporasi, tetapi dapat dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Branch Office Head (BOH) BRI Teluk Kuantan, Rusdi, Kamis (24/9/2026) di Teluk Kuantan.
Menurut Rusdi, komunikasi yang baik menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat mengetahui berbagai program BRI, mulai dari pembiayaan berkelanjutan, pemberdayaan UMKM, penguatan ekonomi masyarakat hingga program sosial dan lingkungan melalui BRI Peduli.
“Komunikasi mengenai ESG bukan hanya soal menyampaikan informasi perusahaan. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat memahami manfaat dan dampaknya, terutama terhadap akses pembiayaan, pemberdayaan UMKM serta program sosial dan lingkungan,” ujar Rusdi.
Ia menjelaskan, BRI berupaya menghubungkan strategi keberlanjutan, berbagai program, capaian perusahaan dan dampaknya kepada masyarakat melalui komunikasi yang konsisten.
Pendekatan tersebut sekaligus menempatkan agenda ESG sebagai bagian dari strategi bisnis dan penciptaan nilai bagi masyarakat Indonesia.
Raih Anugerah Hijau
Komitmen komunikasi keberlanjutan tersebut mendapat apresiasi melalui Anugerah Hijau untuk Komunikasi Strategis Program Keberlanjutan Berdampak.
Penghargaan itu menjadi bagian dari pengakuan terhadap upaya BRI dalam menerjemahkan berbagai agenda keberlanjutan ke dalam komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat dan pemangku kepentingan.
Rusdi mengatakan, bagi BRI di daerah, komunikasi tersebut juga penting untuk memastikan masyarakat mengetahui berbagai akses dan program yang tersedia.
“Kami di BRI Teluk Kuantan tentu ingin informasi mengenai program-program BRI semakin dekat dengan masyarakat. Harapannya, masyarakat tidak hanya mengetahui programnya, tetapi juga memahami bagaimana memanfaatkannya untuk mendukung kegiatan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan,” katanya.
Pembiayaan UMKM Tembus Rp1.235,4 Triliun
Salah satu bentuk nyata agenda keberlanjutan BRI terlihat dari dukungan terhadap sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Hingga triwulan II 2026, pembiayaan BRI untuk segmen UMKM tercatat mencapai Rp1.235,4 triliun, tumbuh 8,6 persen secara year on year (yoy) dengan porsi sekitar 75,1 persen dari total portofolio pembiayaan BRI.
Sementara itu, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI mencapai Rp103,8 triliun kepada sekitar 2 juta debitur.
Angka tersebut memperlihatkan bagaimana akses pembiayaan menjadi salah satu instrumen penting dalam mendorong aktivitas dan pengembangan usaha masyarakat.
Menurut Rusdi, perluasan akses informasi mengenai produk dan layanan keuangan juga harus berjalan beriringan dengan perluasan akses pembiayaan.
“UMKM merupakan bagian penting dari ekonomi masyarakat. Karena itu, akses terhadap informasi dan layanan keuangan harus terus diperluas agar pelaku usaha semakin memahami pilihan pembiayaan yang dapat mendukung pengembangan usahanya,” jelasnya.
Dari Desa hingga Digital
Selain pembiayaan, BRI juga mengkomunikasikan berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Melalui Desa BRILiaN, BRI telah menjangkau lebih dari 5.700 desa binaan. Sementara Klasterku Hidupku telah menjangkau lebih dari 44 ribu klaster usaha.
Pemberdayaan UMKM juga diperluas melalui platform digital LinkUMKM yang telah menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku UMKM.
Sedangkan melalui Rumah BUMN, pendampingan telah membantu sekitar 596 ribu pelaku UMKM.
Bagi BRI Teluk Kuantan, kata Rusdi, berbagai program tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi tidak hanya berbicara mengenai pembiayaan, tetapi juga menyangkut peningkatan kapasitas, pendampingan, digitalisasi dan penguatan ekosistem usaha.
“Pemberdayaan tidak cukup hanya dengan memberikan akses modal. Pelaku usaha juga membutuhkan pendampingan, akses informasi, digitalisasi dan penguatan kapasitas. Karena itu, program-program pemberdayaan BRI diarahkan agar memberikan manfaat yang lebih luas,” ungkap Rusdi.
BRI Peduli, ESG Menyentuh Lingkungan dan Sosial
Komunikasi ESG BRI juga mencakup berbagai program kepedulian sosial dan lingkungan yang berada di bawah payung BRI Peduli.
Di antaranya BRI Peduli Yok Kita Gas, yang berfokus pada pengelolaan lingkungan dan pengurangan sampah, serta BRI Peduli Cegah Stunting Itu Penting, yang mendukung peningkatan kualitas kesehatan dan pencegahan stunting.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya BRI memperlihatkan bahwa agenda ESG tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, tetapi juga menyentuh persoalan lingkungan dan sosial yang berada di tengah masyarakat.
Rusdi menegaskan, komunikasi keberlanjutan harus dibangun secara terbuka dan bertanggung jawab agar publik dapat melihat hubungan antara program perusahaan dengan manfaat yang dihasilkan.
“Kami ingin setiap program yang dikomunikasikan memiliki konteks dan manfaat yang jelas. Dengan begitu, masyarakat dapat melihat bahwa keberlanjutan bukan sekadar istilah, tetapi merupakan bagian dari upaya memberikan manfaat bagi ekonomi, sosial dan lingkungan,” tegasnya.
Pada akhirnya, komunikasi strategis mengenai ESG menjadi jembatan antara perusahaan dan masyarakat.
Bukan hanya menyampaikan apa yang telah dilakukan, tetapi juga membuka ruang bagi publik untuk memahami dampak, manfaat dan akses yang tersedia.
Dari pembiayaan UMKM, KUR, pemberdayaan desa, digitalisasi usaha hingga program sosial dan lingkungan, BRI terus membawa narasi keberlanjutan lebih dekat kepada masyarakat.






