PEKANBARU | DETAKKita.com — Duka mendalam masih menyelimuti keluarga besar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau. Tahlil hari ketujuh almarhum Zulmansyah Sekedang yang digelar di Sekretariat PWI Riau, Jalan Arifin Ahmad, Jumat (24/4/2026), berubah menjadi lautan haru. Doa yang dipanjatkan bukan sekadar ritual, tetapi juga menjadi saksi betapa besar kehilangan yang dirasakan insan pers.
Lantunan tahlil menggema, diikuti wartawan lintas generasi, pengurus, hingga keluarga besar PWI. Suasana hening sesekali pecah oleh isak tangis yang tak terbendung.
Ketua PWI Riau, Raja Isyam Azwar, bahkan tak kuasa menahan emosi. Dengan suara bergetar, ia mengenang almarhum sebagai sosok yang bukan hanya rekan kerja, tetapi sahabat seperjuangan sejak awal menapaki dunia jurnalistik.
“Beliau bukan hanya kolega, tapi sahabat dekat. Kami tumbuh bersama di dunia jurnalistik. Sosok pekerja keras, penuh dedikasi, dan selalu memikirkan organisasi,” tegasnya.
Menurut Isyam, Zulmansyah adalah figur langka yang tidak hanya bekerja, tetapi benar-benar mengabdikan hidupnya untuk marwah pers dan soliditas organisasi.
Kesedihan semakin mendalam saat Anggota Dewan Kehormatan (DK) PWI Pusat, Helmi Burman, menyampaikan kenangan. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung.
“Beliau pekerja keras. Saya pernah menjadi pimpinannya di salah satu media. Hampir setiap hari kami berkomunikasi,” ujarnya lirih.
Helmi menegaskan, sejak menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PWI Pusat, Zulmansyah menunjukkan totalitas luar biasa.
“Dia bukan hanya bekerja, tapi berjuang. Sosok seperti ini yang sulit tergantikan,” katanya.
Senada, Ketua DK PWI Riau, Zufra Irwan, menyebut almarhum sebagai pribadi berintegritas tinggi yang hampir tak memiliki cela sepanjang kariernya.
“Saya mengenal beliau sejak 1997. Tidak pernah ada hal negatif dari beliau. Integritasnya luar biasa,” ungkapnya.
Bahkan, bentuk penghormatan pun mulai diwacanakan. Anggota DK PWI Riau, Zulkani, mengusulkan agar nama Zulmansyah diabadikan di lingkungan organisasi.
“Saya usul ruang rapat Wartawan PWI Riau diberi nama Zulmansyah,” ujarnya singkat namun penuh makna.
Kenangan serupa datang dari berbagai kalangan. Wartawan senior Luna mengenang sosok almarhum sebagai pribadi hangat dan penuh semangat. Sementara Muhammad Amin menilai Zulmansyah bukan sekadar jurnalis biasa.
“Beliau pandai menjaga narasumber dan menuliskannya dengan baik. Bahkan bukan sekadar wartawan, tapi juga sastrawan,” ujarnya.
Di sisi lain, duka juga terasa kuat di kalangan staf sekretariat. Bagi mereka, almarhum bukan sekadar pimpinan.
“Beliau sangat dekat dengan kami, seperti orang tua sendiri,” ujar Tiwi, salah satu staf.
SOSOK BESAR DI BALIK ORGANISASI PERS
Sebagai informasi, Zulmansyah Sekedang merupakan wartawan kelahiran Aceh Tenggara yang dikenal luas sebagai figur sentral di tubuh PWI. Ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PWI Pusat masa bakti 2025–2030, posisi strategis yang mengatur jalannya roda organisasi secara nasional.
Sebelumnya, ia juga sukses memimpin PWI Riau selama dua periode (2017–2022 dan 2022–2027), membuktikan kepercayaan besar yang diberikan kepadanya oleh insan pers di daerah.
Dalam struktur organisasi profesi seperti PWI, peran Sekjen sangat krusial—mulai dari penguatan internal, menjaga etika jurnalistik, hingga menjadi penghubung antara pusat dan daerah. Di sinilah, dedikasi Zulmansyah dinilai sangat menonjol.
PERGI MENDADAK, TINGGALKAN LUKA MENDALAM
Zulmansyah Sekedang meninggal dunia pada Sabtu (18/4/2026) pukul 00.05 WIB di RS Budi Kemuliaan, Jakarta, akibat serangan jantung. Kepergiannya yang mendadak mengejutkan banyak pihak, terutama keluarga besar PWI se-Indonesia.
Kepergian ini bukan hanya kehilangan seorang individu, tetapi juga hilangnya figur pemersatu, penggerak, dan penjaga marwah pers.
Tahlil hari ketujuh ini menjadi penegas: nama Zulmansyah Sekedang tidak akan pernah hilang dari ingatan. Ia mungkin telah pergi, tetapi jejak perjuangannya akan terus hidup di dunia jurnalistik Indonesia.






