Scroll untuk baca artikel
Kabupaten Kuantan SingingiProvinsi RiauSportifitas

Dari Pangean untuk Kuansing: Saat Raket—Keringat dan Mimpi Anak Negeri Dipertaruhkan di Kapolres Cup 2026

×

Dari Pangean untuk Kuansing: Saat Raket—Keringat dan Mimpi Anak Negeri Dipertaruhkan di Kapolres Cup 2026

Sebarkan artikel ini
Dari Pangean untuk Kuansing: Saat Raket—Keringat dan Mimpi Anak Negeri Dipertaruhkan di Kapolres Cup 2026

PANGEAN | DETAKKita.com Malam itu, GOR PB Pangkas di Desa Koto Pangean bukan sekadar arena olahraga.

Di bawah sorot lampu lapangan, suara kok yang beradu dengan senar raket terdengar nyaring. Tepuk tangan pecah. Sorak penonton bergemuruh. Ada semangat yang mengalir. Ada mimpi yang sedang dipertaruhkan.

Bukan hanya soal menang atau kalah.

Tetapi tentang harapan. Tentang persaudaraan. Tentang bagaimana olahraga menjadi benteng terakhir yang menjaga generasi muda agar tidak terseret arus narkoba, kenakalan remaja, dan berbagai penyakit sosial yang mengintai.

Di tengah atmosfer itu, Kapolres Kuantan Singingi AKBP Hidayat Perdana, SH, SIK, MH, berdiri membuka Turnamen Badminton Kapolres Kuansing Cup 2026, Senin (1/6/2026) malam.

Pesannya sederhana. Namun menghentak.

“Bertandinglah dengan semangat. Menang itu penting, tetapi sportivitas jauh lebih penting. Dari lapangan inilah saya berharap lahir atlet-atlet yang kelak membawa nama Kuansing ke tingkat yang lebih tinggi,” tegas Kapolres.

Bulu tangkis memang bukan olahraga asing bagi masyarakat Kuansing.

Di kampung-kampung, di lorong-lorong desa, hingga di sudut-sudut kecamatan, olahraga ini hidup bersama masyarakat. Tidak mengenal status. Tidak mengenal jabatan. Semua bisa bermain.

Karena itulah, ketika Turnamen Kapolres Cup digelar, antusiasme masyarakat langsung terasa.

Sebanyak 112 pasangan kategori umum, 25 pasangan veteran, dan 11 pasangan remaja turun gelanggang. Mereka datang membawa satu tujuan yang sama.

Membuktikan kemampuan.

Mengukur hasil latihan.

Dan tentu saja, mengejar prestasi.

Namun di balik perebutan hadiah puluhan juta rupiah, ada pesan yang jauh lebih besar yang ingin disampaikan.

Bahwa olahraga harus menjadi jalan masa depan generasi muda.

Bahwa raket harus lebih akrab di tangan anak-anak Kuansing daripada narkoba.

Bahwa lapangan olahraga harus lebih ramai dibanding tempat-tempat yang berpotensi merusak masa depan mereka.

Pesan itu pula yang ditegaskan Camat Pangean Aswandi, S.Pd., MM.

Menurutnya, kegiatan olahraga bukan sekadar hiburan atau kompetisi semata.

Ia adalah ruang pembinaan.

Ia adalah wadah pembentukan karakter.

Ia adalah benteng yang menjaga anak-anak muda tetap berada di jalur yang benar.

“Kita ingin generasi muda Kuansing sibuk berlatih, sibuk berprestasi, bukan sibuk dengan hal-hal yang merusak masa depan mereka. Karena itu kegiatan seperti ini sangat penting,” ujarnya.

Tak hanya bicara olahraga, malam pembukaan itu juga membawa pesan tentang masa depan lingkungan.

Kapolres Kuansing AKBP Hidayat Perdana menyerahkan bibit pohon kepada panitia sebagai simbol dukungan terhadap program Green Policing.

Pesan yang ingin dibangun cukup jelas.

Menjaga keamanan tidak hanya soal memberantas kejahatan.

Tetapi juga menjaga alam agar tetap lestari untuk generasi berikutnya.

Ketua Umum PB Pangkas, Mahviyen Trikon Putra, SE, menyebut turnamen ini bukan hanya soal perebutan gelar juara.

Lebih dari itu, ini adalah momentum mempererat persaudaraan antar-atlet dan pecinta bulu tangkis di Kuansing.

“Kami ingin turnamen ini menjadi ruang lahirnya atlet-atlet berbakat sekaligus memperkuat silaturahmi. Karena olahraga yang hebat bukan hanya melahirkan juara, tetapi juga melahirkan persaudaraan,” katanya.

Dukungan serupa datang dari Ketua KONI Kuansing Andi Cahyadi.

Ia mengapresiasi langkah Kapolres Kuansing yang dinilai turut menghidupkan kembali denyut olahraga di daerah.

Menurutnya, semakin banyak kompetisi digelar, semakin besar peluang munculnya atlet-atlet potensial yang mampu membawa nama Kuansing ke tingkat provinsi bahkan nasional.

Malam pembukaan Turnamen Kapolres Kuansing Cup 2026 akhirnya berubah menjadi lebih dari sekadar seremoni.

Ia menjadi pertemuan antara harapan dan kesempatan.

Antara bakat dan panggung pembuktian.

Antara mimpi-mimpi anak kampung dengan peluang untuk menjadi juara.

Sebab di balik setiap kok yang melayang melintasi net, sesungguhnya ada mimpi yang sedang terbang.

Dan dari lapangan sederhana di Pangean itu, bukan tidak mungkin akan lahir nama-nama besar yang suatu hari membuat Kuansing berdiri tegak di podium tertinggi.

Karena juara sejati tidak lahir secara tiba-tiba.

Mereka lahir dari keringat, disiplin, dan keberanian untuk terus bertanding ketika orang lain memilih menyerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *