TELUK KUANTAN | DETAKKita.com — Aroma tak sedap menyelimuti internal SDS Cerenti Subur. Kepemimpinan Kepala Sekolah, Hariaman Sinaga, kini disorot tajam. Ia diduga menjalankan gaya kepemimpinan otoriter, tidak transparan dalam pengelolaan dana sekolah, hingga bersikap intimidatif terhadap guru dan karyawan.
Sejumlah guru yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku suasana kerja di sekolah tersebut jauh dari kata kondusif. Mereka menilai kepala sekolah kerap berbicara dengan nada tinggi, menggertak, bahkan mengancam tenaga kerja yang berstatus karyawan perusahaan PT Agrinas Palma Nusantara (APN).
“Beliau sering marah-marah dan mengintimidasi. Kami bekerja dalam tekanan. Bahkan ada ancaman pemberhentian,” ungkap salah seorang guru kepada DETAKKita.com di Benai, Senin (2/3/2026).
Dana BOSDa Diduga Dikelola Sepihak
Sorotan paling keras mengarah pada pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDa). Sumber internal menyebut, dana tersebut semestinya dikelola secara transparan dan diketahui bendahara sekolah.
Namun fakta di lapangan disebut berbeda.
“Bendahara tidak benar-benar memegang kendali. Dana itu langsung dipegang kepala sekolah,” ujar sumber lain.
Tak hanya itu, praktik penjualan Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada murid disebut masih berlangsung, meskipun regulasi telah melarang praktik komersialisasi semacam itu di lingkungan sekolah. Jika terbukti, hal ini menjadi tamparan keras bagi tata kelola lembaga pendidikan yang seharusnya bersih dan transparan.
Penjaga Sekolah Sakit, Surat Dokter Ditolak
Di tengah polemik tersebut, kisah memilukan datang dari FR Muzacky, penjaga sekolah yang kini tengah sakit. Ia mengaku diperlakukan tidak adil sejak awal bekerja.
Menurut penuturannya, ia pernah diminta menandatangani surat pernyataan siap bekerja selama 24 jam penuh dengan materai. Permintaan itu ditolaknya karena dianggap tidak sesuai aturan ketenagakerjaan.
Sejak itu, hubungan keduanya disebut memburuk.
Puncaknya terjadi saat FR Muzacky jatuh sakit pada Kamis (26/02/2026). Ia meminta izin melalui pamannya.
“Kalau bukan bapak yang minta, tidak saya tandatangani,” demikian pesan yang diterima melalui pamannya, sebagaimana dituturkan FR.
Keesokan harinya, ia berobat ke Rumah Sakit Reza di Kecamatan Benai dan memperoleh surat keterangan sakit yang ditandatangani bidan. Namun surat tersebut ditolak dengan alasan penandatangan memiliki hubungan keluarga dengannya. Akibatnya, ia dilaporkan mangkir ke perusahaan.
Kini, dalam kondisi masih terbaring lemah, FR Muzacky harus menghadapi tekanan administratif yang menambah beban psikologisnya.
Rasa Takut dan Desakan Evaluasi
Beberapa karyawan lain mengaku merasakan sikap serupa, namun memilih diam karena takut kehilangan pekerjaan. Bahkan beredar pengakuan bahwa kepala sekolah kerap menyatakan memiliki kedekatan dengan oknum berpengaruh di Dinas Pendidikan Kabupaten Kuantan Singingi.
Situasi ini memicu keresahan di internal sekolah.
Sejumlah pihak mendesak agar Dinas Pendidikan Kabupaten Kuantan Singingi segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk audit penggunaan dana BOSDa di SDS Cerenti Subur.
Sekolah seharusnya menjadi tempat menanamkan nilai kejujuran, transparansi, dan keteladanan. Jika dugaan ini benar, maka bukan hanya citra institusi yang tercoreng, tetapi juga semangat pendidikan yang ikut tercabik.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Kepala SDS Cerenti Subur belum memberikan klarifikasi resmi atas berbagai tudingan tersebut. DETAKKita.com masih membuka ruang hak jawab demi keberimbangan informasi.






