PUCUK RANTAU | DETAKKita.com — Penantian panjang warga akhirnya terbayar lunas. Jembatan Merah Putih Presisi yang menghubungkan Desa Muara Petai dengan Muara Tiu Makmur resmi difungsikan, disambut haru dan sukacita masyarakat setempat, Selasa (17/3/2026).
Tokoh masyarakat Muara Petai, Andes, tak mampu menyembunyikan rasa emosinya atas peresmian jembatan yang selama ini dinanti-nantikan.
“Ini momen yang sangat kami nantikan. Hanya ucapan terima kasih yang bisa kami sampaikan kepada para pimpinan, mulai dari Bapak Kapolri, Kapolda, Kapolres hingga Bupati,” ujarnya dengan penuh haru.
Peresmian jembatan tersebut dilakukan langsung oleh Bupati Kuantan Singingi (Kuansing), H. Suhardiman Amby, bersama Kapolres Kuansing AKBP Hidayat Perdana, Kajari M. Harun Sunadi, Ketua DPRD H. Juprizal, serta unsur TNI dari Kodim 0302 Inhu-Kuansing.
Bupati Suhardiman Amby menegaskan, kehadiran jembatan ini menjadi solusi krusial bagi masyarakat yang selama ini terhambat akses transportasi.
“Dulu terkendala regulasi, sekarang bisa diselesaikan dengan cepat berkat dukungan semua pihak, khususnya dari jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia melalui Polres Kuansing,” tegasnya.
Ia juga mendorong perusahaan-perusahaan di sekitar wilayah tersebut untuk tidak tinggal diam, melainkan ikut berkontribusi dalam pembangunan daerah melalui program CSR.
“Ke depan, kita harapkan perusahaan ikut ambil bagian agar pembangunan bisa berjalan secara gotong royong,” tambahnya.
Atas nama pemerintah daerah, Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden RI, Kapolri, dan Kapolda Riau atas dukungan nyata terhadap pembangunan jembatan tersebut.
Sementara itu, Kapolres Kuansing AKBP Hidayat Perdana menegaskan bahwa pembangunan jembatan ini bukan kerja satu pihak, melainkan hasil kolaborasi besar lintas sektor.
“Kami dari kepolisian hanya memfasilitasi. Ini adalah kerja bersama hingga akhirnya bisa diresmikan hari ini oleh Kapolri dan Kapolda Riau,” ungkapnya.
Kini, Jembatan Merah Putih Presisi bukan hanya sekadar penghubung dua desa, tetapi telah menjadi simbol kebangkitan akses, harapan baru bagi pelajar, petani, dan seluruh masyarakat—menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat di wilayah Pucuk Rantau.






