Scroll untuk baca artikel
HukrimKabupaten Indragiri HuluProvinsi RiauSuara Kita

DAS Indragiri Rusak — Jembatan Kelayang–Rakit Kulim Terancam: Institusi Dinilai Lemah Hadapi PETI

×

DAS Indragiri Rusak — Jembatan Kelayang–Rakit Kulim Terancam: Institusi Dinilai Lemah Hadapi PETI

Sebarkan artikel ini
DAS Indragiri Rusak — Jembatan Kelayang–Rakit Kulim Terancam: Institusi Dinilai Lemah Hadapi PETI

INHU | DETAKKita.com Maraknya aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di sepanjang aliran Sungai Indragiri kembali menjadi sorotan. Kali ini, dampaknya tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan, tetapi juga membahayakan infrastruktur vital yang menjadi urat nadi masyarakat di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau.

Berdasarkan pantauan langsung awak media di lapangan, Rabu (10/6/2026), aktivitas PETI yang menggunakan puluhan rakit penyedot masih beroperasi di kawasan perairan Sungai Indragiri, tepatnya di wilayah Kecamatan Kelayang dan Kecamatan Rakit Kulim. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran serius terhadap keselamatan jembatan penghubung kedua kecamatan yang kini berada dalam ancaman akibat perubahan kontur sungai dan abrasi yang terus terjadi.

Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri disebut semakin masif akibat aktivitas pengerukan material dasar sungai secara terus-menerus. Dampaknya tidak hanya mengubah alur sungai, tetapi juga mempercepat pengikisan tebing serta berpotensi mengganggu konstruksi penyangga jembatan yang setiap hari dilintasi ribuan warga.

“Selain merusak alam, DAS Indragiri juga dihancurkan secara perlahan. Jika dibiarkan, fasilitas umum yang menjadi akses utama masyarakat bisa ikut menjadi korban. Jembatan ini sangat vital bagi aktivitas ekonomi dan mobilitas warga,” ungkap seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Menurut warga, aktivitas penyedotan material dari dasar sungai berlangsung hampir setiap hari. Puluhan rakit tampak bebas beroperasi tanpa adanya tindakan tegas yang mampu menghentikan praktik ilegal tersebut.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat mengenai efektivitas pengawasan dan penegakan hukum terhadap aktivitas PETI yang kian menjamur. Sejumlah pihak menilai lemahnya tindakan aparat dan instansi terkait menjadi salah satu faktor yang membuat aktivitas perusakan lingkungan tersebut terus berlangsung.

Masyarakat pun mendesak agar aparat penegak hukum, khususnya Polda Riau, segera turun tangan melakukan operasi penertiban secara menyeluruh sebelum kerusakan yang ditimbulkan semakin sulit dipulihkan.

Desakan serupa juga disampaikan Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Kabupaten Indragiri Hulu, Rudi Walker Purba. Ia meminta Kapolres Inhu melalui jajaran Polsek Kelayang untuk segera mengambil langkah konkret dalam menghentikan aktivitas PETI yang semakin berkembang di wilayah tersebut.

“Sudah saatnya dilakukan tindakan nyata. Aktivitas penyedotan pasir, batu dan material lainnya di sepanjang Sungai Indragiri diduga berlangsung tanpa izin resmi. Jika terus dibiarkan, dampaknya bukan hanya pada lingkungan, tetapi juga terhadap keselamatan masyarakat dan aset negara,” tegas Rudi.

Ia menilai persoalan PETI tidak lagi dapat dipandang sebagai pelanggaran biasa, melainkan ancaman serius terhadap keberlangsungan lingkungan hidup dan infrastruktur publik yang dibangun menggunakan anggaran negara.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi DAS Indragiri yang semakin memprihatinkan, laporan terkait kerusakan sungai tersebut juga telah disampaikan kepada Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Wilayah Sumatera. Langkah itu dilakukan agar pemerintah pusat dapat segera melakukan kajian teknis terhadap kondisi sungai sekaligus merumuskan upaya penyelamatan yang diperlukan.

Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat tanggapan resmi dari pihak berwenang terkait langkah konkret yang akan diambil untuk menghentikan aktivitas PETI maupun mengatasi kerusakan DAS Indragiri yang terus meluas.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa apabila tidak segera ditangani, kerusakan lingkungan yang terjadi dapat berkembang menjadi ancaman yang lebih besar, termasuk terhadap keberadaan jembatan penghubung Kelayang–Rakit Kulim yang menjadi akses strategis bagi masyarakat Kabupaten Indragiri Hulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *